Solat Tasbih & keutamaannya..

real connection

Solat sunat Tasbih ini amat dianjurkan dilakukan pada setiap malam / minggu – Jumaat / bulan / tahun / atau paling kurang dan setidak2nya sekali seumur hidup!!

Masya Allah.. hebatkan pelawaan Allah buat kita semua bagi meraih keampunanNya?? terbuka pada setiap masa – terutamanya melalui solat sunat Tasbih yang dilakukan secara ikhlas …. SubhanAllah..

tasbih tangan jer..

Dinamakan solat Sunat Tasbih kerana di dalam solat sunat biasa yang khusus ini diselangi bacaan tasbih sebanyak 300x / 4 rakaat ( 175x tasbih per rakaat!)

Tatacara perlaksanaan solat tasbih ini adalah seperti berikut:

Semua riwayat sepakat solat tasbih hanya 4 rokaat, jika pada siang hari dengan 1x salam (tanpa tasyahud awal) sebanyak 4 rakaat, sedang di malam hari dilakukan sebanyak 2 rokaat- 2 rakaat dengan 2x salam ( dengan tasbih sebanyak 75x tiap raka’atnya), jadi keseluruhan bacaan tasbih dalam shalat tasbih 4 rokaat tersebut 300x tasbih!

irhamna

Niat Shalat Tasbih:

Niat untuk shalat tasbih yang dilakukan dengan dua kali salam (2 rakaat):

أُصَلِّى سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

 

Niat untuk solat tasbih dengan 1x salam (4 rakaat)@ siang hari pula:

أُصَلِّى سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلَّهِ تَعَالَى

Secara umum, shalat tasbih sama dengan tata cara shalat yang lain, hanya saja ada tambahan bacaan tasbih yaitu:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Lafadz ini diucapkan sebanyak 75 kali pada tiap raka’at dengan perincian sebagai berikut.

Sesudah membaca Al-Fatihah dan surah sebelum ruku sebanyak 15 kali,

Ketika ruku’ sesudah membaca do’a ruku’ dibaca lagi sebanyak 10 kali,

Ketika bangun dari ruku’ sesudah bacaan i’tidal dibaca 10 kali,

Ketika sujud pertama sesudah membaca do’a sujud dibaca 10 kali,

Ketika duduk di antara dua sujud sesudah membaca bacaan antara dua sujud dibaca 10 kali tasbih,

Ketika sujud yang kedua sesudah membaca do’a sujud dibaca lagi sebanyak 10 kali,

Ketika bangun dari sujud yang kedua sebelum bangkit (duduk istirahat) dibaca lagi sebanyak 10 kali. (kemudian bangun semula berdiri  untuk rakaat yang kedua).

https://youtu.be/6t5c8PSamy8

Solat Tasbih dilakukan sebanyak 4 raka’at dengan sekali tasyahud, yaitu pada raka’at yang keempat lalu salam (jika dilakukan di siang hari@ bukan pada waktu2 terlarang!)

Dilakukan pula dengan cara dua raka’at-dua raka’at di malam hari, berpandu kepada sabda Rasulullah SAW: “Shalat malam itu, dua-dua” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim) di mana setiap dua raka’at membaca tasyahud kemudian salam.

Waktu shalat tasbih yang paling utama adalah sesudah tenggelamnya matahari, sebagaimana dalam riwayat ‘Abdullah bin Amr.

Tetapi dalam riwayat Ikrimah yang mursal diterangkan bahwa boleh malam hari dan boleh siang hari. Wallâhu A’lam.

Dalil tentang solat tasbih ini sebagaimana yang disabdakan oleh Baginda Rasulullah SAW dalam sebuah hadist dari Ibnu ‘Abbas:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله ُعَنْهُ: أَنََّ رَسُوْلُ اللهِ صَلََّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلََّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَلِّبْ: يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهْ !! أَلاَ أُعْطِيْكَ؟ أَلاَ أُمْنِحُكَ؟ أَلاَ أُحِبُّكَ؟ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشَرَ خِصَالٍ, إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَكَ ذَنْبِكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ, قَدِيْمَهُ وَحَدِيْثَهُ, خَطْأَهُ وَعَمْدَهُ, صَغِيْرَهُ وَكَبِيْرَهُ, سِرَّهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ. عَشَرَ خِصَالٍ, أَنْ تُصَلِّيْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُوْرَةً, فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ, وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاََّّ اللهِ وَالله ُأَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً, ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا, ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوْعِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, ثُمَّ تَهْوِيْ سَاجِدًا فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا, ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُوْدِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُوْنَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ, إِذَا اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيْهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِيْ كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً, فَإِنْ لََمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ سَنَةِ مَرَّةً, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ .فَفِي عُمْرِكَ مَرَّةً

Artinya:

“Dari Ibnu ‘Abbâs, bahwasanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Abbâs bin ‘Abdul Muththalib, ‘Wahai ‘Abbas, wahai pamanku, maukah kamu apabila aku beri? Bolehkah sekiranya aku beri petunjuk padamu? Tidakkah kau mau? Saya akan tunjukkan suatu perbuatan yang mengandung 10 keutamaan, yang jika kamu melakukannya maka diampuni dosamu, yaitu dari awalnya hingga akhirnya, yang lama maupun yang baru, yang tidak disengaja maupun yang disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang tersembunyi maupun yang nampak.

Semuanya 10 macam. Kamu shalat 4 rakaat. Setiap rakaat kamu membaca Al-Fatihah dan satu surah. Jika telah selesai, maka bacalah Subhanallâhi wal hamdulillâhi wa lâ ilâha illallâh wallahu akbar sebelum ruku’ sebanyak 15 kali, kemudian kamu ruku’ lalu bacalah kalimat itu di dalamnya sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari ruku’ (I’tidal) baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud lagi dan baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud sebelum berdiri baca lagi sebanyak 10 kali, maka semuanya sebanyak 75 kali setiap rakaat. Lakukan yang demikian itu dalam empat rakaat. Lakukanlah setiap hari, kalau tidak mampu lakukan setiap pekan, kalau tidak mampu setiap bulan, kalau tidak mampu setiap tahun dan jika tidak mampu maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu.”

 (HR. Abu Daud no. 1297)

Dari Anas bin Malik bahwasannya Ummu Sulaim pagi-pagi menemui Baginda Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ajarilah saya beberapa kalimat yang saya ucapkan didalam shalatku, maka beliau bersabda:

كَبِّرِى اللَّهَ عَشْرًا وَسَبِّحِى اللَّهَ عَشْرًا وَاحْمَدِيهِ عَشْرًا ثُمَّ سَلِى مَا شِئْتِ يَقُولُ نَعَمْ نَعَمْ ». قَالَ وَفِى الْبَابِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَالْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِى رَافِعٍ. قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَنَسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. وَقَدْ رُوِىَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- غَيْرُ حَدِيثٍ فِى صَلاَةِ التَّسْبِيحِ وَلاَ يَصِحُّ مِنْهُ كَبِيرُ شَىْءٍ. وَقَدْ رَأَى ابْنُ الْمُبَارَكِ وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ صَلاَةَ التَّسْبِيحِ وَذَكَرُوا الْفَضْلَ فِيهِ. حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ حَدَّثَنَا أَبُو وَهْبٍ قَالَ سَأَلْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ عَنِ الصَّلاَةِ الَّتِى يُسَبَّحُ فِيهَا فَقَالَ يُكَبِّرُ ثُمَّ يَقُولُ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ ثُمَّ يَقُولُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَتَعَوَّذُ وَيَقْرَأُ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) وَفَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً ثُمَّ يَقُولُ عَشْرَ مَرَّاتٍ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَرْكَعُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا. ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فَيَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ يَسْجُدُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ يَسْجُدُ الثَّانِيَةَ فَيَقُولُهَا عَشْرًا يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ عَلَى هَذَا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ تَسْبِيحَةً فِى كُلِّ رَكْعَةٍ يَبْدَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ بِخَمْسَ عَشْرَةَ تَسْبِيحَةً ثُمَّ يَقْرَأُ ثُمَّ يُسَبِّحُ عَشْرًا فَإِنْ صَلَّى لَيْلاً فَأَحَبُّ إِلَىَّ أَنْ يُسَلِّمَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ وَإِنْ صَلَّى نَهَارًا فَإِنْ شَاءَ سَلَّمَ وَإِنْ شَاءَ لَمْ يُسَلِّمْ. قَالَ أَبُو وَهْبٍ وَأَخْبَرَنِى عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِى رِزْمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ قَالَ يَبْدَأُ فِى الرُّكُوعِ بِسُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ وَفِى السُّجُودِ بِسُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى ثَلاَثًا ثُمَّ يُسَبِّحُ التَّسْبِيحَاتِ. قَالَ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ وَحَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ زَمْعَةَ قَالَ أَخْبَرَنِى عَبْدُ الْعَزِيزِ وَهُوَ ابْنُ أَبِى رِزْمَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ إِنْ سَهَا فِيهَا يُسَبِّحُ فِى سَجْدَتَىِ السَّهْوِ عَشْرًا عَشْرًا قَالَ لاَ إِنَّمَا هِىَ ثَلاَثُمِائَةِ تَسْبِيحَةٍ.

Artinya:

“Bertakbirlah kepada Allah sebanyak sepuluh kali, bertasbihlah kepada Allah sepuluh kali dan bertahmidlah (mengucapkan Alhamdulillah) sepuluh kali, kemudian memohonlah (kepada Allah) apa yang kamu kehendaki, niscaya Dia akan menjawab: ya, ya, (Aku kabulkan permintaanmu).” (perawi) berkata, dalam bab ini (ada juga riwayat -pent) dari Ibnu Abbas, Abdullah bin Amru, Al Fadll bin Abbas dan Abu Rafi’. Abu Isa berkata, hadits anas adalah hadits hasan gharib, telah diriwayatkan dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam selain hadits ini mengenai shalat tasbih, yang kebanyakan (riwayatnya) tidak shahih. Ibnu Mubarrak dan beberapa ulama lainnya berpendapat akan adanya shalat tasbih, mereka juga menyebutkan keutamaan shalat tasbih. Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin ‘Abdah Telah mengabarkan kepada kami Abu Wahb dia berkata, saya bertanya kepada Abdullah bin Al Mubarak tentang shalat tasbih yang didalamnya terdapat bacaan tasbihnya, dia menjawab, ia bertakbir kemudian membaca Subhaanaka Allahumma Wa Bihamdika Wa Tabaarakasmuka Wa Ta’ala Jadduka Walaa Ilaaha Ghairuka kemudian dia membaca Subhaanallah Walhamdulillah Wa Laailaaha Illallah Wallahu Akbar sebanyak lima belas kali, kemudian ia berta’awudz dan membaca bismillah dilanjutkan dengan membaca surat Al fatihah dan surat yang lain, kemudian ia membaca Subhaanallah Walhamdulillah Wa Laailaaha Illallah Wallahu Akbar sebanyak sepuluh kali, kemudian ruku’ dan membaca kalimat itu sepuluh kali, lalu mengangkat kepala dari ruku’ dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, kemudian sujud dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, lalu mengangkat kepalanya dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, kemudian sujud yang kedua kali dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, ia melakukan seperti itu sebanyak empat raka’at, yang setiap satu raka’atnya membaca tasbih sebanyak tujuh puluh lima kali, disetiap raka’atnnya membaca lima belas kali tasbih, kemudian membaca Al Fatehah dan surat sesudahnya serta membaca tasbih sepuluh kali-sepuluh kali, jika ia shalat malam, maka yang lebih disenagi adalah salam pada setiap dua raka’atnya. Jika ia shalat disiang hari, maka ia boleh salam (di raka’at kedua) atau tidak. Abu Wahb berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Abdul ‘Aziz bin Abu Rizmah dari Abdullah bahwa dia berkata, sewaktu ruku’ hendaknya dimulai dengan bacaan Subhaana Rabbiyal ‘Adziimi, begitu juga waktu sujud hendaknya dimulai dengan bacaan Subhaana Rabbiyal A’la sebanyak tiga kali, kemudian membaca tasbih beberapa kali bacaan. Ahmad bin ‘Abdah berkata, Telah mengabarkan kepada kami Wahb bin Zam’ah dia berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Abdul ‘Aziz dia adalah Ibnu Abu Zirmah, dia berkata, saya bertanya kepada Abdullah bin Mubarak, jika seseorang lupa (waktu mengerjakan shalat tasbih) apakah ia harus membaca tasbih pada dua sujud sahwi sebanyak sepuluh kali-sepuluh kali? Dia menjawab, tidak, hanya saja (semua bacaan tasbih pada shalat tasbih) ada tiga ratus kali.

 (HR. Tirmidzi no. 481)

Kedua hadits di atas adalah hadits yang menjelaskan tata cara shalat tasbih. Intinya, shalat tasbih dilakukan dengan 4 raka’at. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa shalat tasbih jumlahnya empat raka’at dan tidak boleh lebih dari itu.

4997f-32265_396093339354_291202364354_4322573_5647008_n

Para Ulama yang Menshahihkan Hadits Shalat Tasbih:

  • Abu Dâud As-Sijistâny. Beliau berkata, “Tidak ada, dalam masalah shalat Tasbih, hadits yang lebih shahih dari hadits ini.”
  • Ad-Dâraquthny. Beliau berkata, “Hadits yang paling shahih dalam masalah keutamaan Al-Qur`ân adalah (hadits tentang keutamaan) Qul Huwa Allâhu Ahad, dan yang paling shahih dalam masalah keutamaan shalat adalah hadits tentang shalat Tasbih.”
  • Al-Âjurry.
  • Ibnu Mandah.
  • Al-Baihaqy.
  • Ibnu As-Sakan.
  • Abu Sa’ad As-Sam’âny.
  • Abu Musa Al-Madiny.
  • Abu Al-Hasan bin Al-Mufadhdhal Al-Maqdasy.
  • Abu Muhammad ‘Abdurrahim Al-Mishry.
  • Al-Mundziry dalam At-Targhib Wa At-Tarhib dan Mukhtashar Sunan Abu Dâud .
  • Ibnush Shalâh. Beliau berkata, “Shalat Tasbih adalah sunnah, bukan bid’ah. Hadits-haditsnya dipakai beramal dengannya.”
  • An-Nawawy dalam At-Tahdzîb Al – Asma` Wa Al-Lughât .
  • Abu Manshur Ad Dailamy dalam Musnad Al-Firdaus .
  • Shalâhuddin Al-‘Alâi. Beliau berkata, “Hadits shalat Tasbih shahih atau hasan, dan harus (tidak boleh dha’if).”
  • Sirajuddîn Al-Bilqîny. Beliau berkata, “Hadits shalat tasbih shahih dan ia mempunyai jalan-jalan yang sebagian darinya menguatkan sebagian yang lainnya, maka ia adalah sunnah dan sepantasnya diamalkan.”
  • Az-Zarkasyi. Beliau berkata, “Hadits shalat Tasbih adalah shahih dan bukan dha’if apalagi maudhu’ (palsu).”
  • As-Subki.
  • Az-Zubaidy dalam Ithâf As-Sâdah Al-Muttaqîn 3/473.
  • Ibnu Nâshiruddin Ad-Dimasqy.
  • Al-Hâfidz Ibnu Hajar dalam Al-Khishâl Al-Mukaffirah Lidzdzunûb Al-Mutaqaddimah Wal Muta`Akhkhirah , Natâijul Afkâr Fî Amâlil Adzkâr dan Al-Ajwibah ‘Alâ Ahâdits Al-Mashâbîh.
  • As-Suyûthy.
  • Al-Laknawy.
  • As-Sindy.
  • Al-Mubârakfûry dalam Tuhfah Al-Ahwadzy .
  • Al-‘Allamah Al-Muhaddits Ahmad Syâkir rahimahullâh.
  • Al-‘Allamah Al-Muhaddits Nâshiruddîn Al-Albâny rahimahullâh dalam Shahîh Abi Dâud (hadits 1173-1174), Shahîh At-Tirmidzy , Shahîh At-Targhib (1/684-686) dan Tahqîq Al-Misykah (1/1328-1329).
  • Al-‘Allamah Al-Muhaddits Muqbil bin Hâdy Al-Wâdi’iy rahimahullâh dalam Ash-Shahîh Al-Musnad Mimmâ Laisa Fî Ash-Shahihain

Do’a Setelah Shalat Tasbih:

  • اللّهُمَّاِنِّى اَسْئَلُكَ تَوْفِيْقَ اَهْلِ اْلهُدَى وَاَعْمَالَ اَهْلِاْليَقِيْن وَمُنَاصَحَةَ اَهْلِ التَّوْبَةِوَعَزَمَ اَهْلِ الصَّبْرِ وَجَدَّ اَهْلِ الْخَشْيَةِ وَطَلَبَ اَهْلِ الرَّغْبَةِ وَتَعَبُّدَاَهْلِ الْوَرَعِ وَعِرْفَانَ اَهْلِ اْلعِلْمِ حَتىَّ اَخَافَكَ .

  • اللّهُمَّ اِنِّى اَسْئَلُكَ مَخَافَةً تُحْجِزُنِى عَنْمَعَاصِيْكَحَتَّى اَعْمَلَ بِطَعَاتِكَ عَمَلاً اَسْتَحِقُ بِهِ رِضَاكَ وَحَتَّىاُنَاصِحَكَ فِىالتَّوْبَةِ خَوْفًا مِنْكَ وَحَتَّى اُخْلِصَ لَكَالنَّصِيْحَةَ حُبًّالَكَ وَحَتَّى اَتَوَكَّلَعَلَيْكَ فِى اْلأُمُوْرِكُلِّهَا وَاُحْسِنَ الظَّنَّ بِكَ سُبْحَانَ خَالِقِ النُّوْرِ رَبَّنَااَتْمِمْ لَنَا نُوْرَنَاوَغْفِرْلَنَا اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍقَدِيْر بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّّاحِمِيْن.

doa

 

Bid’ah yang sering ditemukan dalam Shalat Tasbih:

Untuk melengkapi pembahasan yang singkat ini, maka saya sertakan juga penyimpangan-penyimpangan (bid’ah–bid’ah) yang banyak terjadi disekitar pelaksanaan shalat tasbih, di antaranya adalah:

  1. Mengkhususkan pelaksanaannya pada malam Jum’at saja.
  2. Dilakukan secara berjama’ah terus menerus.
  3. Diiringi dengan bacaan-bacaan tertentu, baik sebelum maupun sesudah shalat.
  4. Tidak mau shalat kecuali bersama imamnya, jamaahnya, atau tarekatnya.
  5. Tidak mau shalat kecuali di masjid tertentu.
  6. Keyakinan sebagian orang yang melakukannya bahwa rezekinya akan bertambah dengan shalat tasbih.
  7. Membawa binatang-binatang tertentu untuk disembelih saat sebelum atau sesudah shalat tasbih, disertai dengan keyakinan-keyakinan tertentu.

Kesimpulan Hadits tentang shalat tasbih adalah hadits yang tsabit/sah dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, maka boleh diamalkan sesuai dengan tata cara yang telah disebutkan diatas.

– Wallâhu A’lam bi ash-Shawâb

#copied &edited & pasted from:

http://afifulikhwan.blogspot.my/2012/11/tata-cara-shalat-tasbih-lengkap-dan.html

 

permudahkanlah, Ya Ilahi..

in syaa Allah, mudah2an dengan terbenamnya mentari hari ini (16 Syawal, 1437h) – memasuki waktu Maghrib di Malaysia, dapat mencukupkan posa qada’ Ramadhanku di tahun ini sebanyak 15 hari… aameen…

inilah ekspedisi pertamaku mengganti posa secara direct sejak Syawal ke-2!(dengan izinNya!)

images

Alhamdulillah…

tentulah tenang dan merasa layak sedikit untuk merayakan lebaran di tahun ini kerana posa dah cukup sebulan..aameen.. agar diterimaNya amalan kerdil ini yang tersangat celanya, Ya Ghafur.. Ya Rauf..

walau agak terlewat, pastinya akan terbit kepuasan dan kesyukuran kerana diberiNya kekuatan menjalaninya di lebaran ini.. hutang terbayar, mestilah lega kan?

aameen…

Ilahi, irhamni…

permudahkanlah… Ya Wadood!

images

rumi1

Salam Eidul Fitri 1437h!

eid_mubarak3.jpg

assalaam wbt.

MAAF ZAHIR BATIN, YE!!

Saya mengambil peluang ini memohon kemaafan dari kalian atas segala ketelanjuran bicara dan sikap sepanjang perkenalan di sini..

eid_mubarak 1433h

Harap sudi juga dihalalkan segala bentuk perkongsian ilmu yang disentap tanpa rela.. uhh2x.. sekadar niat pengamatan diri untuk semua..

SALAM EID MUBARAK, 1433H

MAAF ZAHIR BATIN, k!

EID MUBARAK!

EID MUBARAK!

Eid-Mubarak-Greeting-Cards

wassalaam wbt.

#1Syawal,1437h=6Julai,2016(Khamis)

 

Solat Tasbih & keutamaannya..

real connection

Solat sunat Tasbih ini amat dianjurkan dilakukan pada setiap malam / minggu – Jumaat / bulan / tahun / atau paling kurang dan setidak2nya sekali seumur hidup!!

Masya Allah.. hebatkan pelawaan Allah buat kita semua bagi meraih keampunanNya?? terbuka pada setiap masa – terutamanya melalui solat sunat Tasbih yang dilakukan secara ikhlas …. SubhanAllah..

tasbih tangan jer..

Dinamakan solat Sunat Tasbih kerana di dalam solat sunat biasa yang khusus ini diselangi bacaan tasbih sebanyak 300x / 4 rakaat ( 175x tasbih per rakaat!)

Tatacara perlaksanaan solat tasbih ini adalah seperti berikut:

Semua riwayat sepakat solat tasbih hanya 4 rokaat, jika pada siang hari dengan 1x salam (tanpa tasyahud awal) sebanyak 4 rakaat, sedang di malam hari dilakukan sebanyak 2 rokaat- 2 rakaat dengan 2x salam ( dengan tasbih sebanyak 75x tiap raka’atnya), jadi keseluruhan bacaan tasbih dalam shalat tasbih 4 rokaat tersebut 300x tasbih!

irhamna

Niat Shalat Tasbih:

Niat untuk shalat tasbih yang dilakukan dengan dua kali salam (2 rakaat):

أُصَلِّى سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

 

Niat untuk solat tasbih dengan 1x salam (4 rakaat)@ siang hari pula:

أُصَلِّى سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلَّهِ تَعَالَى

Secara umum, shalat tasbih sama dengan tata cara shalat yang lain, hanya saja ada tambahan bacaan tasbih yaitu:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Lafadz ini diucapkan sebanyak 75 kali pada tiap raka’at dengan perincian sebagai berikut.
Sesudah membaca Al-Fatihah dan surah sebelum ruku sebanyak 15 kali,
Ketika ruku’ sesudah membaca do’a ruku’ dibaca lagi sebanyak 10 kali,
Ketika bangun dari ruku’ sesudah bacaan i’tidal dibaca 10 kali,
Ketika sujud pertama sesudah membaca do’a sujud dibaca 10 kali,
Ketika duduk di antara dua sujud sesudah membaca bacaan antara dua sujud dibaca 10 kali tasbih,
Ketika sujud yang kedua sesudah membaca do’a sujud dibaca lagi sebanyak 10 kali,
Ketika bangun dari sujud yang kedua sebelum bangkit (duduk istirahat) dibaca lagi sebanyak 10 kali. (kemudian bangun semula berdiri  untuk rakaat yang kedua).

https://youtu.be/6t5c8PSamy8

Solat Tasbih dilakukan sebanyak 4 raka’at dengan sekali tasyahud, yaitu pada raka’at yang keempat lalu salam (jika dilakukan di siang hari@ bukan pada waktu2 terlarang!)

Dilakukan pula dengan cara dua raka’at-dua raka’at di malam hari, berpandu kepada sabda Rasulullah SAW: “Shalat malam itu, dua-dua” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim) di mana setiap dua raka’at membaca tasyahud kemudian salam.

Waktu shalat tasbih yang paling utama adalah sesudah tenggelamnya matahari, sebagaimana dalam riwayat ‘Abdullah bin Amr.

Tetapi dalam riwayat Ikrimah yang mursal diterangkan bahwa boleh malam hari dan boleh siang hari. Wallâhu A’lam.

Dalil tentang solat tasbih ini sebagaimana yang disabdakan oleh Baginda Rasulullah SAW dalam sebuah hadist dari Ibnu ‘Abbas:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله ُعَنْهُ: أَنََّ رَسُوْلُ اللهِ صَلََّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلََّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَلِّبْ: يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهْ !! أَلاَ أُعْطِيْكَ؟ أَلاَ أُمْنِحُكَ؟ أَلاَ أُحِبُّكَ؟ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشَرَ خِصَالٍ, إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَكَ ذَنْبِكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ, قَدِيْمَهُ وَحَدِيْثَهُ, خَطْأَهُ وَعَمْدَهُ, صَغِيْرَهُ وَكَبِيْرَهُ, سِرَّهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ. عَشَرَ خِصَالٍ, أَنْ تُصَلِّيْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُوْرَةً, فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ, وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاََّّ اللهِ وَالله ُأَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً, ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا, ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوْعِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, ثُمَّ تَهْوِيْ سَاجِدًا فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا, ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُوْدِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُوْنَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ, إِذَا اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيْهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِيْ كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً, فَإِنْ لََمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ سَنَةِ مَرَّةً, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ .فَفِي عُمْرِكَ مَرَّةً

Artinya:

“Dari Ibnu ‘Abbâs, bahwasanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Abbâs bin ‘Abdul Muththalib, ‘Wahai ‘Abbas, wahai pamanku, maukah kamu apabila aku beri? Bolehkah sekiranya aku beri petunjuk padamu? Tidakkah kau mau? Saya akan tunjukkan suatu perbuatan yang mengandung 10 keutamaan, yang jika kamu melakukannya maka diampuni dosamu, yaitu dari awalnya hingga akhirnya, yang lama maupun yang baru, yang tidak disengaja maupun yang disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang tersembunyi maupun yang nampak.
Semuanya 10 macam. Kamu shalat 4 rakaat. Setiap rakaat kamu membaca Al-Fatihah dan satu surah. Jika telah selesai, maka bacalah Subhanallâhi wal hamdulillâhi wa lâ ilâha illallâh wallahu akbar sebelum ruku’ sebanyak 15 kali, kemudian kamu ruku’ lalu bacalah kalimat itu di dalamnya sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari ruku’ (I’tidal) baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud lagi dan baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud sebelum berdiri baca lagi sebanyak 10 kali, maka semuanya sebanyak 75 kali setiap rakaat. Lakukan yang demikian itu dalam empat rakaat. Lakukanlah setiap hari, kalau tidak mampu lakukan setiap pekan, kalau tidak mampu setiap bulan, kalau tidak mampu setiap tahun dan jika tidak mampu maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu.”

 (HR. Abu Daud no. 1297)

Dari Anas bin Malik bahwasannya Ummu Sulaim pagi-pagi menemui Baginda Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ajarilah saya beberapa kalimat yang saya ucapkan didalam shalatku, maka beliau bersabda:

كَبِّرِى اللَّهَ عَشْرًا وَسَبِّحِى اللَّهَ عَشْرًا وَاحْمَدِيهِ عَشْرًا ثُمَّ سَلِى مَا شِئْتِ يَقُولُ نَعَمْ نَعَمْ ». قَالَ وَفِى الْبَابِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَالْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِى رَافِعٍ. قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَنَسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. وَقَدْ رُوِىَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- غَيْرُ حَدِيثٍ فِى صَلاَةِ التَّسْبِيحِ وَلاَ يَصِحُّ مِنْهُ كَبِيرُ شَىْءٍ. وَقَدْ رَأَى ابْنُ الْمُبَارَكِ وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ صَلاَةَ التَّسْبِيحِ وَذَكَرُوا الْفَضْلَ فِيهِ. حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ حَدَّثَنَا أَبُو وَهْبٍ قَالَ سَأَلْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ عَنِ الصَّلاَةِ الَّتِى يُسَبَّحُ فِيهَا فَقَالَ يُكَبِّرُ ثُمَّ يَقُولُ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ ثُمَّ يَقُولُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَتَعَوَّذُ وَيَقْرَأُ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) وَفَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً ثُمَّ يَقُولُ عَشْرَ مَرَّاتٍ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَرْكَعُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا. ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فَيَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ يَسْجُدُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ يَسْجُدُ الثَّانِيَةَ فَيَقُولُهَا عَشْرًا يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ عَلَى هَذَا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ تَسْبِيحَةً فِى كُلِّ رَكْعَةٍ يَبْدَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ بِخَمْسَ عَشْرَةَ تَسْبِيحَةً ثُمَّ يَقْرَأُ ثُمَّ يُسَبِّحُ عَشْرًا فَإِنْ صَلَّى لَيْلاً فَأَحَبُّ إِلَىَّ أَنْ يُسَلِّمَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ وَإِنْ صَلَّى نَهَارًا فَإِنْ شَاءَ سَلَّمَ وَإِنْ شَاءَ لَمْ يُسَلِّمْ. قَالَ أَبُو وَهْبٍ وَأَخْبَرَنِى عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِى رِزْمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ قَالَ يَبْدَأُ فِى الرُّكُوعِ بِسُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ وَفِى السُّجُودِ بِسُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى ثَلاَثًا ثُمَّ يُسَبِّحُ التَّسْبِيحَاتِ. قَالَ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ وَحَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ زَمْعَةَ قَالَ أَخْبَرَنِى عَبْدُ الْعَزِيزِ وَهُوَ ابْنُ أَبِى رِزْمَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ إِنْ سَهَا فِيهَا يُسَبِّحُ فِى سَجْدَتَىِ السَّهْوِ عَشْرًا عَشْرًا قَالَ لاَ إِنَّمَا هِىَ ثَلاَثُمِائَةِ تَسْبِيحَةٍ.

Artinya:
“Bertakbirlah kepada Allah sebanyak sepuluh kali, bertasbihlah kepada Allah sepuluh kali dan bertahmidlah (mengucapkan Alhamdulillah) sepuluh kali, kemudian memohonlah (kepada Allah) apa yang kamu kehendaki, niscaya Dia akan menjawab: ya, ya, (Aku kabulkan permintaanmu).” (perawi) berkata, dalam bab ini (ada juga riwayat -pent) dari Ibnu Abbas, Abdullah bin Amru, Al Fadll bin Abbas dan Abu Rafi’. Abu Isa berkata, hadits anas adalah hadits hasan gharib, telah diriwayatkan dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam selain hadits ini mengenai shalat tasbih, yang kebanyakan (riwayatnya) tidak shahih. Ibnu Mubarrak dan beberapa ulama lainnya berpendapat akan adanya shalat tasbih, mereka juga menyebutkan keutamaan shalat tasbih. Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin ‘Abdah Telah mengabarkan kepada kami Abu Wahb dia berkata, saya bertanya kepada Abdullah bin Al Mubarak tentang shalat tasbih yang didalamnya terdapat bacaan tasbihnya, dia menjawab, ia bertakbir kemudian membaca Subhaanaka Allahumma Wa Bihamdika Wa Tabaarakasmuka Wa Ta’ala Jadduka Walaa Ilaaha Ghairuka kemudian dia membaca Subhaanallah Walhamdulillah Wa Laailaaha Illallah Wallahu Akbar sebanyak lima belas kali, kemudian ia berta’awudz dan membaca bismillah dilanjutkan dengan membaca surat Al fatihah dan surat yang lain, kemudian ia membaca Subhaanallah Walhamdulillah Wa Laailaaha Illallah Wallahu Akbar sebanyak sepuluh kali, kemudian ruku’ dan membaca kalimat itu sepuluh kali, lalu mengangkat kepala dari ruku’ dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, kemudian sujud dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, lalu mengangkat kepalanya dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, kemudian sujud yang kedua kali dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, ia melakukan seperti itu sebanyak empat raka’at, yang setiap satu raka’atnya membaca tasbih sebanyak tujuh puluh lima kali, disetiap raka’atnnya membaca lima belas kali tasbih, kemudian membaca Al Fatehah dan surat sesudahnya serta membaca tasbih sepuluh kali-sepuluh kali, jika ia shalat malam, maka yang lebih disenagi adalah salam pada setiap dua raka’atnya. Jika ia shalat disiang hari, maka ia boleh salam (di raka’at kedua) atau tidak. Abu Wahb berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Abdul ‘Aziz bin Abu Rizmah dari Abdullah bahwa dia berkata, sewaktu ruku’ hendaknya dimulai dengan bacaan Subhaana Rabbiyal ‘Adziimi, begitu juga waktu sujud hendaknya dimulai dengan bacaan Subhaana Rabbiyal A’la sebanyak tiga kali, kemudian membaca tasbih beberapa kali bacaan. Ahmad bin ‘Abdah berkata, Telah mengabarkan kepada kami Wahb bin Zam’ah dia berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Abdul ‘Aziz dia adalah Ibnu Abu Zirmah, dia berkata, saya bertanya kepada Abdullah bin Mubarak, jika seseorang lupa (waktu mengerjakan shalat tasbih) apakah ia harus membaca tasbih pada dua sujud sahwi sebanyak sepuluh kali-sepuluh kali? Dia menjawab, tidak, hanya saja (semua bacaan tasbih pada shalat tasbih) ada tiga ratus kali.

 (HR. Tirmidzi no. 481)

Kedua hadits di atas adalah hadits yang menjelaskan tata cara shalat tasbih. Intinya, shalat tasbih dilakukan dengan 4 raka’at. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa shalat tasbih jumlahnya empat raka’at dan tidak boleh lebih dari itu.

4997f-32265_396093339354_291202364354_4322573_5647008_n

Para Ulama yang Menshahihkan Hadits Shalat Tasbih:

  • Abu Dâud As-Sijistâny. Beliau berkata, “Tidak ada, dalam masalah shalat Tasbih, hadits yang lebih shahih dari hadits ini.”
  • Ad-Dâraquthny. Beliau berkata, “Hadits yang paling shahih dalam masalah keutamaan Al-Qur`ân adalah (hadits tentang keutamaan) Qul Huwa Allâhu Ahad, dan yang paling shahih dalam masalah keutamaan shalat adalah hadits tentang shalat Tasbih.”
  • Al-Âjurry.
  • Ibnu Mandah.
  • Al-Baihaqy.
  • Ibnu As-Sakan.
  • Abu Sa’ad As-Sam’âny.
  • Abu Musa Al-Madiny.
  • Abu Al-Hasan bin Al-Mufadhdhal Al-Maqdasy.
  • Abu Muhammad ‘Abdurrahim Al-Mishry.
  • Al-Mundziry dalam At-Targhib Wa At-Tarhib dan Mukhtashar Sunan Abu Dâud .
  • Ibnush Shalâh. Beliau berkata, “Shalat Tasbih adalah sunnah, bukan bid’ah. Hadits-haditsnya dipakai beramal dengannya.”
  • An-Nawawy dalam At-Tahdzîb Al – Asma` Wa Al-Lughât .
  • Abu Manshur Ad Dailamy dalam Musnad Al-Firdaus .
  • Shalâhuddin Al-‘Alâi. Beliau berkata, “Hadits shalat Tasbih shahih atau hasan, dan harus (tidak boleh dha’if).”
  • Sirajuddîn Al-Bilqîny. Beliau berkata, “Hadits shalat tasbih shahih dan ia mempunyai jalan-jalan yang sebagian darinya menguatkan sebagian yang lainnya, maka ia adalah sunnah dan sepantasnya diamalkan.”
  • Az-Zarkasyi. Beliau berkata, “Hadits shalat Tasbih adalah shahih dan bukan dha’if apalagi maudhu’ (palsu).”
  • As-Subki.
  • Az-Zubaidy dalam Ithâf As-Sâdah Al-Muttaqîn 3/473.
  • Ibnu Nâshiruddin Ad-Dimasqy.
  • Al-Hâfidz Ibnu Hajar dalam Al-Khishâl Al-Mukaffirah Lidzdzunûb Al-Mutaqaddimah Wal Muta`Akhkhirah , Natâijul Afkâr Fî Amâlil Adzkâr dan Al-Ajwibah ‘Alâ Ahâdits Al-Mashâbîh.
  • As-Suyûthy.
  • Al-Laknawy.
  • As-Sindy.
  • Al-Mubârakfûry dalam Tuhfah Al-Ahwadzy .
  • Al-‘Allamah Al-Muhaddits Ahmad Syâkir rahimahullâh.
  • Al-‘Allamah Al-Muhaddits Nâshiruddîn Al-Albâny rahimahullâh dalam Shahîh Abi Dâud (hadits 1173-1174), Shahîh At-Tirmidzy , Shahîh At-Targhib (1/684-686) dan Tahqîq Al-Misykah (1/1328-1329).
  • Al-‘Allamah Al-Muhaddits Muqbil bin Hâdy Al-Wâdi’iy rahimahullâh dalam Ash-Shahîh Al-Musnad Mimmâ Laisa Fî Ash-Shahihain

Do’a Setelah Shalat Tasbih:

  • اللّهُمَّاِنِّى اَسْئَلُكَ تَوْفِيْقَ اَهْلِ اْلهُدَى وَاَعْمَالَ اَهْلِاْليَقِيْن وَمُنَاصَحَةَ اَهْلِ التَّوْبَةِوَعَزَمَ اَهْلِ الصَّبْرِ وَجَدَّ اَهْلِ الْخَشْيَةِ وَطَلَبَ اَهْلِ الرَّغْبَةِ وَتَعَبُّدَاَهْلِ الْوَرَعِ وَعِرْفَانَ اَهْلِ اْلعِلْمِ حَتىَّ اَخَافَكَ .

  • اللّهُمَّ اِنِّى اَسْئَلُكَ مَخَافَةً تُحْجِزُنِى عَنْمَعَاصِيْكَحَتَّى اَعْمَلَ بِطَعَاتِكَ عَمَلاً اَسْتَحِقُ بِهِ رِضَاكَ وَحَتَّىاُنَاصِحَكَ فِىالتَّوْبَةِ خَوْفًا مِنْكَ وَحَتَّى اُخْلِصَ لَكَالنَّصِيْحَةَ حُبًّالَكَ وَحَتَّى اَتَوَكَّلَعَلَيْكَ فِى اْلأُمُوْرِكُلِّهَا وَاُحْسِنَ الظَّنَّ بِكَ سُبْحَانَ خَالِقِ النُّوْرِ رَبَّنَااَتْمِمْ لَنَا نُوْرَنَاوَغْفِرْلَنَا اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍقَدِيْر بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّّاحِمِيْن.

doa

 

Bid’ah yang sering ditemukan dalam Shalat Tasbih:

Untuk melengkapi pembahasan yang singkat ini, maka saya sertakan juga penyimpangan-penyimpangan (bid’ah–bid’ah) yang banyak terjadi disekitar pelaksanaan shalat tasbih, di antaranya adalah:

  1. Mengkhususkan pelaksanaannya pada malam Jum’at saja.
  2. Dilakukan secara berjama’ah terus menerus.
  3. Diiringi dengan bacaan-bacaan tertentu, baik sebelum maupun sesudah shalat.
  4. Tidak mau shalat kecuali bersama imamnya, jamaahnya, atau tarekatnya.
  5. Tidak mau shalat kecuali di masjid tertentu.
  6. Keyakinan sebagian orang yang melakukannya bahwa rezekinya akan bertambah dengan shalat tasbih.
  7. Membawa binatang-binatang tertentu untuk disembelih saat sebelum atau sesudah shalat tasbih, disertai dengan keyakinan-keyakinan tertentu.

Kesimpulan Hadits tentang shalat tasbih adalah hadits yang tsabit/sah dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, maka boleh diamalkan sesuai dengan tata cara yang telah disebutkan diatas.

– Wallâhu A’lam bi ash-Shawâb

#copied &edited & pasted from:

http://afifulikhwan.blogspot.my/2012/11/tata-cara-shalat-tasbih-lengkap-dan.html

 

2016 my Ramadhan’s remarks

huhu..

bukan apa, sekadar mencatat kenangan, mencoret peristiwa supaya esok tidak lupa ~ bisa dikenang lelama… memori posa di musim ini (yang separuh telah terhutang kini!)..  begitulah, kesayangan … ;D special cuti kurniaan Ilahi.. jangan jealous, k!

MasyaAllah laquwwata illa billah! Rencana Allah Baik, Dia mengetahui yang terbaik buat hamba kerdil ini.. Apa sahaja yang ditakdirkan adalah mengikut kehendakNya yang Maha Bijaksana lagi Amat Pengasih dan Sungguh Pengasihani..

Kita merancang, Dia merencanakan, dan ditakdirkan apa yang telah ditetapkanNya ke atas kita, hamba yang serba dhoif ini mengikut daya keupayaan kita dan tidak dikurangkan sedikitpun… begitu berhalus dan Maha Lembut Allah itu! SubhanAllah..

Dalam kita cuba ingin mengutip apa yang tercicir dalam sendu, Allah Tahu walau kita sembunyikan malu-malu… Dia beri kita kekuatan dan keyakinan, jangan ragu!

Sesungguhnya, sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan. Sesungguhnya, sesudah kepayahan itu pasti ada kesenangan!

Janji Allah itu Benar, cuma kita yang kerap celopor, jahat sangka, tidak tahan diuji dengan musibah yang bukan mahu kita; (ditakdirkan kita menjalaninya) untuk latihan mensucikan diri dan jiwa agar dekat padaNya.. sedarlah diriku yang alpha..

Astaghfirullah al Adziim.. manusia memang tidak sunyi dari berbuat noda dan dosa, baru sebentar terbuka hijab menginsafi diri, kemudian sekelip mata itu juga diburui nafsu mazmumah yang tercela… naudzubillahi min dzaliik.. perjuangan yang tidakkan selesai selagi hayat dikandung badan, berdenyut nadi di maya ini..

Dosa pahala beriringan dicatatkan bersama pantasnya gerakan syaitan menghasuti, dan pujukan malaikat menghalangi! Aduhai jiwa, gunalah pertimbangan akal yang waras kerana kita adalah musafir kelana di tanah gersang, bekalan kita di mana: cukupkah untuk rempuhan hangat yang panjang?

Semuanya milik Allah, kita tidak memiliki tapi dimiliki.. apa yang kepunyaan (kononnya) kita hanyalah pinjaman, bakal ditanya seluruh soalan! Pancaindera, ke mana telah dihalakan, kelebihan ke mana dicampakkan, Allahu… banyaknya soalan kubur yang bocor diketahui jawapannya tapi di dunia ini masih belum diamalkan..

Kecutnya hati, andai esok bukan lagi hariku di sini, bagaimana khabar anda nanti.. apakah kembali atau terus menyepi.. ?? Sungguh aku gusar, melihat kalian dari sini, melarikan atau membenci ? Ya Tuhan, berilah jalan, tunjuki kami… jangan Engkau sisihkan kami kerana beban dosa2 bertimbun kami  – usahlah lupakan kami yang hina ini tatkala Engkau makbulkan doa hamba-hambaMu yang soleh menadah tangan memohon keampunan dan keridhaanMu di Ramadhan Mubarak ini..

Andai kelewatan lalu menjarakkan apa yang telah pergi, mohon belas rahmatMu yang Maha Meluas – sedikit terakhir kini mencukupkan segala yang telah terlepas!

<img src="adh-duha.jpg" alt="Surat Adh-Dhuha lengkap dengan terjemahan dan Latinnya ">

Surat adh-Dhuha : ( ayat 1 – 11 )

Bismillahirrahmanirrahiim

1. Wadhdhuhaa


2. Wallayli idzaa sajaa


3. Maa wadda'aka rabbuka wamaa qalaa


4. Walal-aakhiratu khayrul laka mina l-uulaa


5. Walasawfa yu'thiika rabbuka fatardaa

6. Alam yajidka yatiiman faaawaa


7. Wawajadaka daallan fahadaa


8. Wawajadaka 'aa-ilan fa-aghnaa


9. Fa-ammaa lyatiima falaa taqhar


10. Wa-ammaa ssaa-ila falaa tanhar


 11. Wa-ammaa bini'mati rabbika fahaddits

Artinya :


 Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang


 1. Demi waktu matahari sepenggalahan naik,”


 2. dan demi malam apabila telah sunyi (gelap),”


 3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci” kepadamu.


 4. Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”


 5. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.


 6. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu ?”


 7. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.”


 8. “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”


 9. “Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.”


 10. “Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.”


 11. “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.”
 

 

Apakah kita sudah terlambat? Belum sahabat!. Selagi ada kesempatan walaupun hanya sedikit, kita perbanyak amalan-amalan kebaikan kita. Sempurnakan amalan-amalan kita di hari-hari terakhir bulan Ramadhan.

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :

أحسن فيما بقي يغفر لك ما مضى، فاغتنم ما بقي فلا تدري متى تدرك رحمة الله…

“Perbaiki apa yang tersisa bagimu, maka Allah akan mengampuni atas apa yang telah lalu, maka manfaatkan sebaik-baiknya apa yang masih tersisa!”

Jadi, kita fokuskan untuk hari-hari terakhir ramadhan tahun ini untuk menyempurnakan amalan-amalan kita.

Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

العبرة بكمال النهايات لا بنقص البدايات “

Yang akan menjadi ukuran adalah kesempurnaan akhir dari sebuah amal, dan bukan buruknya permulaan…” .
.

Jadi, perbanyak dan sempurnakanlah amalan-amalan kita di hari-hari terakhir ramadhan tahun ini agar kita bisa mendapatkan pahala dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Semoga kita termasuk umat yang senantiasa menghidupkan Ramadhan dengan amalan-amalan kebaikan kita, dan semoga Allah mempertemukan kita kembali di bulan Ramadhan tahun depan.

Wallahu Ta’alaa A’lam
.
.

Allohummaj’al khoiro ‘amaliy khowatimahu.
(Ya Allah jadikanlah sebaik-baik amalanku adalah pada penutupannya)

بارك اللّٰه فيكم وتقبل الله منا ومنكم

aameen..

sayyidul_istighfar4997f-32265_396093339354_291202364354_4322573_5647008_ndoa

 

Promosi Nuzul Qur’an

Ramadhan Bulan Al Qur’an..

bulan nuzul (turunnya) Al Qur’an..!!

NEW OFFER!!

Promo: Tafsir Qur’an Per Kata 

Penerbit : Maghfirah

    
“Tafsir Qur’an Per Kata, Dilengkapi Dengan Asbabun Nuzul danTerjemah”

Penyusun : Dr. Ahmad Hatta, MA

Kelebihan Tafsir Qur’an Per Kata ini adalah :

* Tafsir ijmali (global) yang ringkas, bukan sekedar terjemah, yang disusun berdasarkan kata per kata dari setiap ayat al-Qur’an
* Mudah dibaca dan dipahami, baik secara terpotong-potong kata per kata atau pun secara utuh ayat per ayat.
* Disusun dengan merujuk kepada buku-buku Tafsir yang mu’tabar (diakui)
* Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul, yang memberikan informasi tentang kondisi dan latar belakang turunnya setiap ayat.
* Dilengkapi juga dengan terjemahan Departemen Agama.
* Tersedia 4 pilihan warna cover: merah, biru, hijau, dan ungu (tergantung persediaan)
* Cocok untuk hadiah (kado) kepada orang yang anda kasihi.
* Lengkap 30 Juz al Qur’an hanya dalam satu buku

Tafsir Qur’an per kata adalah salah satu solusi terbaik bagi mereka yang ingin belajar memahami tafsir Alqur’an kata per kata dengan mudah dan cepat. Tafsir ini sangat ringkas (hanya satu jilid) yang disusun berdasarkan kata per kata dari setiap ayat al Qur’an sehingga mudah untuk dibaca dan dipahami, baik secara terpotong-potong kata per kata maupun secara utuh ayat per ayat. Anda tak perlu khawatir, kitab tafsir ini disusun dengan merujuk kepada sumber-sumber terpercaya dari berbagai kitab tafsir yang mu’tabar (diakui) seperti tafsir ibnu katsir, dan lainnya.

Meskipun ringkas, Tafsir Qur’an perkata dilengkapi dengan asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat al Qur’an) dan terjemahan lengkap bahasa Indonesia sehingga sangat mudah untuk dibaca dan dipahami oleh orang awam sekalipun. Wajar bila kitab ini mendapat banyak pujian dari ulama dan ahli tafsir di Indonesia.

Tebal 624 halaman

Justeru, sukacita ingin dikongsi kesempatan ini bagi menyemarakkan kecintaan kita kepada kitab suci, mukjizat sepanjang zaman ~ AlQur’an Kareem; untuk rujukan & amalan kita bersama..

Mudah-mudahan usaha kecil ini diterimanya sebagai amal soleh yang dapat menghapuskan dosa-dosa yang tidak sunyi pada diri.. aameen…

Silakan kengkawan yang berminat untuk membeli naskah terhad ini, menghubungi segera (emel/teleg/wsapp/sms) saya di ruangan komen di bawah, ye?

#kos penghantaran percuma

Harga Tafsir Qur’an Per Kata Super Special Mampu Milik!

# buku di bawah juga dalam promosi RAMADHAN kali ini jer! 

PAT, EDISI TERHAD!!

   

Sinopsis

Isi buku INDAHNYA HIDUP BERSYARIAT ini merupakan panduan untuk diri sendiri (fardu ain), seisi keluarga, masyarakat dan umat sejagat (fardu kifayah). Ia merangkumi syariat ketika kelahiran, fardu ain kanak-kanak, penekanan pendidikan remaja, hukum-hakam muamalat (jual beli), munakahat (nikah kahwin dan rumah tangga) serta amalan zikir, doa dan adab. Semua ilmu bersumberkan al-Quran dan hadis sahih. Teknik penyampaian buku ini ringkas dan tepat dalam bentuk carta, jadual dan rajah.

Semua doa, bacaan dan zikir boleh dibaca dan dihafal dengan mudah. Langkah amalan disampaikan mengikut turutan step by step. Media fotografi warna penuh digunakan untuk menunjukkan perkara yang realistik. Buku ini seharusnya menjadi kewajipan untuk dimiliki oleh setiap rumah, pusat sumber, sekolah dan individu.