Solat Tasbih & keutamaannya..

real connection

Solat sunat Tasbih ini amat dianjurkan dilakukan pada setiap malam / minggu – Jumaat / bulan / tahun / atau paling kurang dan setidak2nya sekali seumur hidup!!

Masya Allah.. hebatkan pelawaan Allah buat kita semua bagi meraih keampunanNya?? terbuka pada setiap masa – terutamanya melalui solat sunat Tasbih yang dilakukan secara ikhlas …. SubhanAllah..

tasbih tangan jer..

Dinamakan solat Sunat Tasbih kerana di dalam solat sunat biasa yang khusus ini diselangi bacaan tasbih sebanyak 300x / 4 rakaat ( 175x tasbih per rakaat!)

Tatacara perlaksanaan solat tasbih ini adalah seperti berikut:

Semua riwayat sepakat solat tasbih hanya 4 rokaat, jika pada siang hari dengan 1x salam (tanpa tasyahud awal) sebanyak 4 rakaat, sedang di malam hari dilakukan sebanyak 2 rokaat- 2 rakaat dengan 2x salam ( dengan tasbih sebanyak 75x tiap raka’atnya), jadi keseluruhan bacaan tasbih dalam shalat tasbih 4 rokaat tersebut 300x tasbih!

irhamna

Niat Shalat Tasbih:

Niat untuk shalat tasbih yang dilakukan dengan dua kali salam (2 rakaat):

أُصَلِّى سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

 

Niat untuk solat tasbih dengan 1x salam (4 rakaat)@ siang hari pula:

أُصَلِّى سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلَّهِ تَعَالَى

Secara umum, shalat tasbih sama dengan tata cara shalat yang lain, hanya saja ada tambahan bacaan tasbih yaitu:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Lafadz ini diucapkan sebanyak 75 kali pada tiap raka’at dengan perincian sebagai berikut.

Sesudah membaca Al-Fatihah dan surah sebelum ruku sebanyak 15 kali,

Ketika ruku’ sesudah membaca do’a ruku’ dibaca lagi sebanyak 10 kali,

Ketika bangun dari ruku’ sesudah bacaan i’tidal dibaca 10 kali,

Ketika sujud pertama sesudah membaca do’a sujud dibaca 10 kali,

Ketika duduk di antara dua sujud sesudah membaca bacaan antara dua sujud dibaca 10 kali tasbih,

Ketika sujud yang kedua sesudah membaca do’a sujud dibaca lagi sebanyak 10 kali,

Ketika bangun dari sujud yang kedua sebelum bangkit (duduk istirahat) dibaca lagi sebanyak 10 kali. (kemudian bangun semula berdiri  untuk rakaat yang kedua).

https://youtu.be/6t5c8PSamy8

Solat Tasbih dilakukan sebanyak 4 raka’at dengan sekali tasyahud, yaitu pada raka’at yang keempat lalu salam (jika dilakukan di siang hari@ bukan pada waktu2 terlarang!)

Dilakukan pula dengan cara dua raka’at-dua raka’at di malam hari, berpandu kepada sabda Rasulullah SAW: “Shalat malam itu, dua-dua” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim) di mana setiap dua raka’at membaca tasyahud kemudian salam.

Waktu shalat tasbih yang paling utama adalah sesudah tenggelamnya matahari, sebagaimana dalam riwayat ‘Abdullah bin Amr.

Tetapi dalam riwayat Ikrimah yang mursal diterangkan bahwa boleh malam hari dan boleh siang hari. Wallâhu A’lam.

Dalil tentang solat tasbih ini sebagaimana yang disabdakan oleh Baginda Rasulullah SAW dalam sebuah hadist dari Ibnu ‘Abbas:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله ُعَنْهُ: أَنََّ رَسُوْلُ اللهِ صَلََّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلََّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَلِّبْ: يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهْ !! أَلاَ أُعْطِيْكَ؟ أَلاَ أُمْنِحُكَ؟ أَلاَ أُحِبُّكَ؟ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشَرَ خِصَالٍ, إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَكَ ذَنْبِكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ, قَدِيْمَهُ وَحَدِيْثَهُ, خَطْأَهُ وَعَمْدَهُ, صَغِيْرَهُ وَكَبِيْرَهُ, سِرَّهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ. عَشَرَ خِصَالٍ, أَنْ تُصَلِّيْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُوْرَةً, فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ, وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاََّّ اللهِ وَالله ُأَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً, ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا, ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوْعِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, ثُمَّ تَهْوِيْ سَاجِدًا فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا, ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُوْدِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُوْنَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ, إِذَا اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيْهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِيْ كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً, فَإِنْ لََمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ سَنَةِ مَرَّةً, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ .فَفِي عُمْرِكَ مَرَّةً

Artinya:

“Dari Ibnu ‘Abbâs, bahwasanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Abbâs bin ‘Abdul Muththalib, ‘Wahai ‘Abbas, wahai pamanku, maukah kamu apabila aku beri? Bolehkah sekiranya aku beri petunjuk padamu? Tidakkah kau mau? Saya akan tunjukkan suatu perbuatan yang mengandung 10 keutamaan, yang jika kamu melakukannya maka diampuni dosamu, yaitu dari awalnya hingga akhirnya, yang lama maupun yang baru, yang tidak disengaja maupun yang disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang tersembunyi maupun yang nampak.

Semuanya 10 macam. Kamu shalat 4 rakaat. Setiap rakaat kamu membaca Al-Fatihah dan satu surah. Jika telah selesai, maka bacalah Subhanallâhi wal hamdulillâhi wa lâ ilâha illallâh wallahu akbar sebelum ruku’ sebanyak 15 kali, kemudian kamu ruku’ lalu bacalah kalimat itu di dalamnya sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari ruku’ (I’tidal) baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud lagi dan baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud sebelum berdiri baca lagi sebanyak 10 kali, maka semuanya sebanyak 75 kali setiap rakaat. Lakukan yang demikian itu dalam empat rakaat. Lakukanlah setiap hari, kalau tidak mampu lakukan setiap pekan, kalau tidak mampu setiap bulan, kalau tidak mampu setiap tahun dan jika tidak mampu maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu.”

 (HR. Abu Daud no. 1297)

Dari Anas bin Malik bahwasannya Ummu Sulaim pagi-pagi menemui Baginda Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ajarilah saya beberapa kalimat yang saya ucapkan didalam shalatku, maka beliau bersabda:

كَبِّرِى اللَّهَ عَشْرًا وَسَبِّحِى اللَّهَ عَشْرًا وَاحْمَدِيهِ عَشْرًا ثُمَّ سَلِى مَا شِئْتِ يَقُولُ نَعَمْ نَعَمْ ». قَالَ وَفِى الْبَابِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَالْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِى رَافِعٍ. قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَنَسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. وَقَدْ رُوِىَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- غَيْرُ حَدِيثٍ فِى صَلاَةِ التَّسْبِيحِ وَلاَ يَصِحُّ مِنْهُ كَبِيرُ شَىْءٍ. وَقَدْ رَأَى ابْنُ الْمُبَارَكِ وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ صَلاَةَ التَّسْبِيحِ وَذَكَرُوا الْفَضْلَ فِيهِ. حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ حَدَّثَنَا أَبُو وَهْبٍ قَالَ سَأَلْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ عَنِ الصَّلاَةِ الَّتِى يُسَبَّحُ فِيهَا فَقَالَ يُكَبِّرُ ثُمَّ يَقُولُ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ ثُمَّ يَقُولُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَتَعَوَّذُ وَيَقْرَأُ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) وَفَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً ثُمَّ يَقُولُ عَشْرَ مَرَّاتٍ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَرْكَعُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا. ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فَيَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ يَسْجُدُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ يَسْجُدُ الثَّانِيَةَ فَيَقُولُهَا عَشْرًا يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ عَلَى هَذَا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ تَسْبِيحَةً فِى كُلِّ رَكْعَةٍ يَبْدَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ بِخَمْسَ عَشْرَةَ تَسْبِيحَةً ثُمَّ يَقْرَأُ ثُمَّ يُسَبِّحُ عَشْرًا فَإِنْ صَلَّى لَيْلاً فَأَحَبُّ إِلَىَّ أَنْ يُسَلِّمَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ وَإِنْ صَلَّى نَهَارًا فَإِنْ شَاءَ سَلَّمَ وَإِنْ شَاءَ لَمْ يُسَلِّمْ. قَالَ أَبُو وَهْبٍ وَأَخْبَرَنِى عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِى رِزْمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ قَالَ يَبْدَأُ فِى الرُّكُوعِ بِسُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ وَفِى السُّجُودِ بِسُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى ثَلاَثًا ثُمَّ يُسَبِّحُ التَّسْبِيحَاتِ. قَالَ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ وَحَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ زَمْعَةَ قَالَ أَخْبَرَنِى عَبْدُ الْعَزِيزِ وَهُوَ ابْنُ أَبِى رِزْمَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ إِنْ سَهَا فِيهَا يُسَبِّحُ فِى سَجْدَتَىِ السَّهْوِ عَشْرًا عَشْرًا قَالَ لاَ إِنَّمَا هِىَ ثَلاَثُمِائَةِ تَسْبِيحَةٍ.

Artinya:

“Bertakbirlah kepada Allah sebanyak sepuluh kali, bertasbihlah kepada Allah sepuluh kali dan bertahmidlah (mengucapkan Alhamdulillah) sepuluh kali, kemudian memohonlah (kepada Allah) apa yang kamu kehendaki, niscaya Dia akan menjawab: ya, ya, (Aku kabulkan permintaanmu).” (perawi) berkata, dalam bab ini (ada juga riwayat -pent) dari Ibnu Abbas, Abdullah bin Amru, Al Fadll bin Abbas dan Abu Rafi’. Abu Isa berkata, hadits anas adalah hadits hasan gharib, telah diriwayatkan dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam selain hadits ini mengenai shalat tasbih, yang kebanyakan (riwayatnya) tidak shahih. Ibnu Mubarrak dan beberapa ulama lainnya berpendapat akan adanya shalat tasbih, mereka juga menyebutkan keutamaan shalat tasbih. Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin ‘Abdah Telah mengabarkan kepada kami Abu Wahb dia berkata, saya bertanya kepada Abdullah bin Al Mubarak tentang shalat tasbih yang didalamnya terdapat bacaan tasbihnya, dia menjawab, ia bertakbir kemudian membaca Subhaanaka Allahumma Wa Bihamdika Wa Tabaarakasmuka Wa Ta’ala Jadduka Walaa Ilaaha Ghairuka kemudian dia membaca Subhaanallah Walhamdulillah Wa Laailaaha Illallah Wallahu Akbar sebanyak lima belas kali, kemudian ia berta’awudz dan membaca bismillah dilanjutkan dengan membaca surat Al fatihah dan surat yang lain, kemudian ia membaca Subhaanallah Walhamdulillah Wa Laailaaha Illallah Wallahu Akbar sebanyak sepuluh kali, kemudian ruku’ dan membaca kalimat itu sepuluh kali, lalu mengangkat kepala dari ruku’ dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, kemudian sujud dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, lalu mengangkat kepalanya dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, kemudian sujud yang kedua kali dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, ia melakukan seperti itu sebanyak empat raka’at, yang setiap satu raka’atnya membaca tasbih sebanyak tujuh puluh lima kali, disetiap raka’atnnya membaca lima belas kali tasbih, kemudian membaca Al Fatehah dan surat sesudahnya serta membaca tasbih sepuluh kali-sepuluh kali, jika ia shalat malam, maka yang lebih disenagi adalah salam pada setiap dua raka’atnya. Jika ia shalat disiang hari, maka ia boleh salam (di raka’at kedua) atau tidak. Abu Wahb berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Abdul ‘Aziz bin Abu Rizmah dari Abdullah bahwa dia berkata, sewaktu ruku’ hendaknya dimulai dengan bacaan Subhaana Rabbiyal ‘Adziimi, begitu juga waktu sujud hendaknya dimulai dengan bacaan Subhaana Rabbiyal A’la sebanyak tiga kali, kemudian membaca tasbih beberapa kali bacaan. Ahmad bin ‘Abdah berkata, Telah mengabarkan kepada kami Wahb bin Zam’ah dia berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Abdul ‘Aziz dia adalah Ibnu Abu Zirmah, dia berkata, saya bertanya kepada Abdullah bin Mubarak, jika seseorang lupa (waktu mengerjakan shalat tasbih) apakah ia harus membaca tasbih pada dua sujud sahwi sebanyak sepuluh kali-sepuluh kali? Dia menjawab, tidak, hanya saja (semua bacaan tasbih pada shalat tasbih) ada tiga ratus kali.

 (HR. Tirmidzi no. 481)

Kedua hadits di atas adalah hadits yang menjelaskan tata cara shalat tasbih. Intinya, shalat tasbih dilakukan dengan 4 raka’at. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa shalat tasbih jumlahnya empat raka’at dan tidak boleh lebih dari itu.

4997f-32265_396093339354_291202364354_4322573_5647008_n

Para Ulama yang Menshahihkan Hadits Shalat Tasbih:

  • Abu Dâud As-Sijistâny. Beliau berkata, “Tidak ada, dalam masalah shalat Tasbih, hadits yang lebih shahih dari hadits ini.”
  • Ad-Dâraquthny. Beliau berkata, “Hadits yang paling shahih dalam masalah keutamaan Al-Qur`ân adalah (hadits tentang keutamaan) Qul Huwa Allâhu Ahad, dan yang paling shahih dalam masalah keutamaan shalat adalah hadits tentang shalat Tasbih.”
  • Al-Âjurry.
  • Ibnu Mandah.
  • Al-Baihaqy.
  • Ibnu As-Sakan.
  • Abu Sa’ad As-Sam’âny.
  • Abu Musa Al-Madiny.
  • Abu Al-Hasan bin Al-Mufadhdhal Al-Maqdasy.
  • Abu Muhammad ‘Abdurrahim Al-Mishry.
  • Al-Mundziry dalam At-Targhib Wa At-Tarhib dan Mukhtashar Sunan Abu Dâud .
  • Ibnush Shalâh. Beliau berkata, “Shalat Tasbih adalah sunnah, bukan bid’ah. Hadits-haditsnya dipakai beramal dengannya.”
  • An-Nawawy dalam At-Tahdzîb Al – Asma` Wa Al-Lughât .
  • Abu Manshur Ad Dailamy dalam Musnad Al-Firdaus .
  • Shalâhuddin Al-‘Alâi. Beliau berkata, “Hadits shalat Tasbih shahih atau hasan, dan harus (tidak boleh dha’if).”
  • Sirajuddîn Al-Bilqîny. Beliau berkata, “Hadits shalat tasbih shahih dan ia mempunyai jalan-jalan yang sebagian darinya menguatkan sebagian yang lainnya, maka ia adalah sunnah dan sepantasnya diamalkan.”
  • Az-Zarkasyi. Beliau berkata, “Hadits shalat Tasbih adalah shahih dan bukan dha’if apalagi maudhu’ (palsu).”
  • As-Subki.
  • Az-Zubaidy dalam Ithâf As-Sâdah Al-Muttaqîn 3/473.
  • Ibnu Nâshiruddin Ad-Dimasqy.
  • Al-Hâfidz Ibnu Hajar dalam Al-Khishâl Al-Mukaffirah Lidzdzunûb Al-Mutaqaddimah Wal Muta`Akhkhirah , Natâijul Afkâr Fî Amâlil Adzkâr dan Al-Ajwibah ‘Alâ Ahâdits Al-Mashâbîh.
  • As-Suyûthy.
  • Al-Laknawy.
  • As-Sindy.
  • Al-Mubârakfûry dalam Tuhfah Al-Ahwadzy .
  • Al-‘Allamah Al-Muhaddits Ahmad Syâkir rahimahullâh.
  • Al-‘Allamah Al-Muhaddits Nâshiruddîn Al-Albâny rahimahullâh dalam Shahîh Abi Dâud (hadits 1173-1174), Shahîh At-Tirmidzy , Shahîh At-Targhib (1/684-686) dan Tahqîq Al-Misykah (1/1328-1329).
  • Al-‘Allamah Al-Muhaddits Muqbil bin Hâdy Al-Wâdi’iy rahimahullâh dalam Ash-Shahîh Al-Musnad Mimmâ Laisa Fî Ash-Shahihain

Do’a Setelah Shalat Tasbih:

  • اللّهُمَّاِنِّى اَسْئَلُكَ تَوْفِيْقَ اَهْلِ اْلهُدَى وَاَعْمَالَ اَهْلِاْليَقِيْن وَمُنَاصَحَةَ اَهْلِ التَّوْبَةِوَعَزَمَ اَهْلِ الصَّبْرِ وَجَدَّ اَهْلِ الْخَشْيَةِ وَطَلَبَ اَهْلِ الرَّغْبَةِ وَتَعَبُّدَاَهْلِ الْوَرَعِ وَعِرْفَانَ اَهْلِ اْلعِلْمِ حَتىَّ اَخَافَكَ .

  • اللّهُمَّ اِنِّى اَسْئَلُكَ مَخَافَةً تُحْجِزُنِى عَنْمَعَاصِيْكَحَتَّى اَعْمَلَ بِطَعَاتِكَ عَمَلاً اَسْتَحِقُ بِهِ رِضَاكَ وَحَتَّىاُنَاصِحَكَ فِىالتَّوْبَةِ خَوْفًا مِنْكَ وَحَتَّى اُخْلِصَ لَكَالنَّصِيْحَةَ حُبًّالَكَ وَحَتَّى اَتَوَكَّلَعَلَيْكَ فِى اْلأُمُوْرِكُلِّهَا وَاُحْسِنَ الظَّنَّ بِكَ سُبْحَانَ خَالِقِ النُّوْرِ رَبَّنَااَتْمِمْ لَنَا نُوْرَنَاوَغْفِرْلَنَا اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍقَدِيْر بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّّاحِمِيْن.

doa

 

Bid’ah yang sering ditemukan dalam Shalat Tasbih:

Untuk melengkapi pembahasan yang singkat ini, maka saya sertakan juga penyimpangan-penyimpangan (bid’ah–bid’ah) yang banyak terjadi disekitar pelaksanaan shalat tasbih, di antaranya adalah:

  1. Mengkhususkan pelaksanaannya pada malam Jum’at saja.
  2. Dilakukan secara berjama’ah terus menerus.
  3. Diiringi dengan bacaan-bacaan tertentu, baik sebelum maupun sesudah shalat.
  4. Tidak mau shalat kecuali bersama imamnya, jamaahnya, atau tarekatnya.
  5. Tidak mau shalat kecuali di masjid tertentu.
  6. Keyakinan sebagian orang yang melakukannya bahwa rezekinya akan bertambah dengan shalat tasbih.
  7. Membawa binatang-binatang tertentu untuk disembelih saat sebelum atau sesudah shalat tasbih, disertai dengan keyakinan-keyakinan tertentu.

Kesimpulan Hadits tentang shalat tasbih adalah hadits yang tsabit/sah dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, maka boleh diamalkan sesuai dengan tata cara yang telah disebutkan diatas.

– Wallâhu A’lam bi ash-Shawâb

#copied &edited & pasted from:

http://afifulikhwan.blogspot.my/2012/11/tata-cara-shalat-tasbih-lengkap-dan.html

 

Solat Tasbih & keutamaannya..

real connection

Solat sunat Tasbih ini amat dianjurkan dilakukan pada setiap malam / minggu – Jumaat / bulan / tahun / atau paling kurang dan setidak2nya sekali seumur hidup!!

Masya Allah.. hebatkan pelawaan Allah buat kita semua bagi meraih keampunanNya?? terbuka pada setiap masa – terutamanya melalui solat sunat Tasbih yang dilakukan secara ikhlas …. SubhanAllah..

tasbih tangan jer..

Dinamakan solat Sunat Tasbih kerana di dalam solat sunat biasa yang khusus ini diselangi bacaan tasbih sebanyak 300x / 4 rakaat ( 175x tasbih per rakaat!)

Tatacara perlaksanaan solat tasbih ini adalah seperti berikut:

Semua riwayat sepakat solat tasbih hanya 4 rokaat, jika pada siang hari dengan 1x salam (tanpa tasyahud awal) sebanyak 4 rakaat, sedang di malam hari dilakukan sebanyak 2 rokaat- 2 rakaat dengan 2x salam ( dengan tasbih sebanyak 75x tiap raka’atnya), jadi keseluruhan bacaan tasbih dalam shalat tasbih 4 rokaat tersebut 300x tasbih!

irhamna

Niat Shalat Tasbih:

Niat untuk shalat tasbih yang dilakukan dengan dua kali salam (2 rakaat):

أُصَلِّى سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

 

Niat untuk solat tasbih dengan 1x salam (4 rakaat)@ siang hari pula:

أُصَلِّى سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلَّهِ تَعَالَى

Secara umum, shalat tasbih sama dengan tata cara shalat yang lain, hanya saja ada tambahan bacaan tasbih yaitu:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Lafadz ini diucapkan sebanyak 75 kali pada tiap raka’at dengan perincian sebagai berikut.
Sesudah membaca Al-Fatihah dan surah sebelum ruku sebanyak 15 kali,
Ketika ruku’ sesudah membaca do’a ruku’ dibaca lagi sebanyak 10 kali,
Ketika bangun dari ruku’ sesudah bacaan i’tidal dibaca 10 kali,
Ketika sujud pertama sesudah membaca do’a sujud dibaca 10 kali,
Ketika duduk di antara dua sujud sesudah membaca bacaan antara dua sujud dibaca 10 kali tasbih,
Ketika sujud yang kedua sesudah membaca do’a sujud dibaca lagi sebanyak 10 kali,
Ketika bangun dari sujud yang kedua sebelum bangkit (duduk istirahat) dibaca lagi sebanyak 10 kali. (kemudian bangun semula berdiri  untuk rakaat yang kedua).

https://youtu.be/6t5c8PSamy8

Solat Tasbih dilakukan sebanyak 4 raka’at dengan sekali tasyahud, yaitu pada raka’at yang keempat lalu salam (jika dilakukan di siang hari@ bukan pada waktu2 terlarang!)

Dilakukan pula dengan cara dua raka’at-dua raka’at di malam hari, berpandu kepada sabda Rasulullah SAW: “Shalat malam itu, dua-dua” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim) di mana setiap dua raka’at membaca tasyahud kemudian salam.

Waktu shalat tasbih yang paling utama adalah sesudah tenggelamnya matahari, sebagaimana dalam riwayat ‘Abdullah bin Amr.

Tetapi dalam riwayat Ikrimah yang mursal diterangkan bahwa boleh malam hari dan boleh siang hari. Wallâhu A’lam.

Dalil tentang solat tasbih ini sebagaimana yang disabdakan oleh Baginda Rasulullah SAW dalam sebuah hadist dari Ibnu ‘Abbas:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله ُعَنْهُ: أَنََّ رَسُوْلُ اللهِ صَلََّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلََّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَلِّبْ: يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهْ !! أَلاَ أُعْطِيْكَ؟ أَلاَ أُمْنِحُكَ؟ أَلاَ أُحِبُّكَ؟ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشَرَ خِصَالٍ, إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَكَ ذَنْبِكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ, قَدِيْمَهُ وَحَدِيْثَهُ, خَطْأَهُ وَعَمْدَهُ, صَغِيْرَهُ وَكَبِيْرَهُ, سِرَّهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ. عَشَرَ خِصَالٍ, أَنْ تُصَلِّيْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُوْرَةً, فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ, وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاََّّ اللهِ وَالله ُأَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً, ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا, ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوْعِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, ثُمَّ تَهْوِيْ سَاجِدًا فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا, ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُوْدِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُوْنَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ, إِذَا اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيْهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِيْ كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً, فَإِنْ لََمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ سَنَةِ مَرَّةً, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ .فَفِي عُمْرِكَ مَرَّةً

Artinya:

“Dari Ibnu ‘Abbâs, bahwasanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Abbâs bin ‘Abdul Muththalib, ‘Wahai ‘Abbas, wahai pamanku, maukah kamu apabila aku beri? Bolehkah sekiranya aku beri petunjuk padamu? Tidakkah kau mau? Saya akan tunjukkan suatu perbuatan yang mengandung 10 keutamaan, yang jika kamu melakukannya maka diampuni dosamu, yaitu dari awalnya hingga akhirnya, yang lama maupun yang baru, yang tidak disengaja maupun yang disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang tersembunyi maupun yang nampak.
Semuanya 10 macam. Kamu shalat 4 rakaat. Setiap rakaat kamu membaca Al-Fatihah dan satu surah. Jika telah selesai, maka bacalah Subhanallâhi wal hamdulillâhi wa lâ ilâha illallâh wallahu akbar sebelum ruku’ sebanyak 15 kali, kemudian kamu ruku’ lalu bacalah kalimat itu di dalamnya sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari ruku’ (I’tidal) baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud lagi dan baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud sebelum berdiri baca lagi sebanyak 10 kali, maka semuanya sebanyak 75 kali setiap rakaat. Lakukan yang demikian itu dalam empat rakaat. Lakukanlah setiap hari, kalau tidak mampu lakukan setiap pekan, kalau tidak mampu setiap bulan, kalau tidak mampu setiap tahun dan jika tidak mampu maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu.”

 (HR. Abu Daud no. 1297)

Dari Anas bin Malik bahwasannya Ummu Sulaim pagi-pagi menemui Baginda Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ajarilah saya beberapa kalimat yang saya ucapkan didalam shalatku, maka beliau bersabda:

كَبِّرِى اللَّهَ عَشْرًا وَسَبِّحِى اللَّهَ عَشْرًا وَاحْمَدِيهِ عَشْرًا ثُمَّ سَلِى مَا شِئْتِ يَقُولُ نَعَمْ نَعَمْ ». قَالَ وَفِى الْبَابِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَالْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِى رَافِعٍ. قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَنَسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. وَقَدْ رُوِىَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- غَيْرُ حَدِيثٍ فِى صَلاَةِ التَّسْبِيحِ وَلاَ يَصِحُّ مِنْهُ كَبِيرُ شَىْءٍ. وَقَدْ رَأَى ابْنُ الْمُبَارَكِ وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ صَلاَةَ التَّسْبِيحِ وَذَكَرُوا الْفَضْلَ فِيهِ. حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ حَدَّثَنَا أَبُو وَهْبٍ قَالَ سَأَلْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ عَنِ الصَّلاَةِ الَّتِى يُسَبَّحُ فِيهَا فَقَالَ يُكَبِّرُ ثُمَّ يَقُولُ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ ثُمَّ يَقُولُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَتَعَوَّذُ وَيَقْرَأُ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) وَفَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً ثُمَّ يَقُولُ عَشْرَ مَرَّاتٍ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَرْكَعُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا. ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فَيَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ يَسْجُدُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ يَسْجُدُ الثَّانِيَةَ فَيَقُولُهَا عَشْرًا يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ عَلَى هَذَا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ تَسْبِيحَةً فِى كُلِّ رَكْعَةٍ يَبْدَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ بِخَمْسَ عَشْرَةَ تَسْبِيحَةً ثُمَّ يَقْرَأُ ثُمَّ يُسَبِّحُ عَشْرًا فَإِنْ صَلَّى لَيْلاً فَأَحَبُّ إِلَىَّ أَنْ يُسَلِّمَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ وَإِنْ صَلَّى نَهَارًا فَإِنْ شَاءَ سَلَّمَ وَإِنْ شَاءَ لَمْ يُسَلِّمْ. قَالَ أَبُو وَهْبٍ وَأَخْبَرَنِى عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِى رِزْمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ قَالَ يَبْدَأُ فِى الرُّكُوعِ بِسُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ وَفِى السُّجُودِ بِسُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى ثَلاَثًا ثُمَّ يُسَبِّحُ التَّسْبِيحَاتِ. قَالَ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ وَحَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ زَمْعَةَ قَالَ أَخْبَرَنِى عَبْدُ الْعَزِيزِ وَهُوَ ابْنُ أَبِى رِزْمَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ إِنْ سَهَا فِيهَا يُسَبِّحُ فِى سَجْدَتَىِ السَّهْوِ عَشْرًا عَشْرًا قَالَ لاَ إِنَّمَا هِىَ ثَلاَثُمِائَةِ تَسْبِيحَةٍ.

Artinya:
“Bertakbirlah kepada Allah sebanyak sepuluh kali, bertasbihlah kepada Allah sepuluh kali dan bertahmidlah (mengucapkan Alhamdulillah) sepuluh kali, kemudian memohonlah (kepada Allah) apa yang kamu kehendaki, niscaya Dia akan menjawab: ya, ya, (Aku kabulkan permintaanmu).” (perawi) berkata, dalam bab ini (ada juga riwayat -pent) dari Ibnu Abbas, Abdullah bin Amru, Al Fadll bin Abbas dan Abu Rafi’. Abu Isa berkata, hadits anas adalah hadits hasan gharib, telah diriwayatkan dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam selain hadits ini mengenai shalat tasbih, yang kebanyakan (riwayatnya) tidak shahih. Ibnu Mubarrak dan beberapa ulama lainnya berpendapat akan adanya shalat tasbih, mereka juga menyebutkan keutamaan shalat tasbih. Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin ‘Abdah Telah mengabarkan kepada kami Abu Wahb dia berkata, saya bertanya kepada Abdullah bin Al Mubarak tentang shalat tasbih yang didalamnya terdapat bacaan tasbihnya, dia menjawab, ia bertakbir kemudian membaca Subhaanaka Allahumma Wa Bihamdika Wa Tabaarakasmuka Wa Ta’ala Jadduka Walaa Ilaaha Ghairuka kemudian dia membaca Subhaanallah Walhamdulillah Wa Laailaaha Illallah Wallahu Akbar sebanyak lima belas kali, kemudian ia berta’awudz dan membaca bismillah dilanjutkan dengan membaca surat Al fatihah dan surat yang lain, kemudian ia membaca Subhaanallah Walhamdulillah Wa Laailaaha Illallah Wallahu Akbar sebanyak sepuluh kali, kemudian ruku’ dan membaca kalimat itu sepuluh kali, lalu mengangkat kepala dari ruku’ dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, kemudian sujud dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, lalu mengangkat kepalanya dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, kemudian sujud yang kedua kali dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, ia melakukan seperti itu sebanyak empat raka’at, yang setiap satu raka’atnya membaca tasbih sebanyak tujuh puluh lima kali, disetiap raka’atnnya membaca lima belas kali tasbih, kemudian membaca Al Fatehah dan surat sesudahnya serta membaca tasbih sepuluh kali-sepuluh kali, jika ia shalat malam, maka yang lebih disenagi adalah salam pada setiap dua raka’atnya. Jika ia shalat disiang hari, maka ia boleh salam (di raka’at kedua) atau tidak. Abu Wahb berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Abdul ‘Aziz bin Abu Rizmah dari Abdullah bahwa dia berkata, sewaktu ruku’ hendaknya dimulai dengan bacaan Subhaana Rabbiyal ‘Adziimi, begitu juga waktu sujud hendaknya dimulai dengan bacaan Subhaana Rabbiyal A’la sebanyak tiga kali, kemudian membaca tasbih beberapa kali bacaan. Ahmad bin ‘Abdah berkata, Telah mengabarkan kepada kami Wahb bin Zam’ah dia berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Abdul ‘Aziz dia adalah Ibnu Abu Zirmah, dia berkata, saya bertanya kepada Abdullah bin Mubarak, jika seseorang lupa (waktu mengerjakan shalat tasbih) apakah ia harus membaca tasbih pada dua sujud sahwi sebanyak sepuluh kali-sepuluh kali? Dia menjawab, tidak, hanya saja (semua bacaan tasbih pada shalat tasbih) ada tiga ratus kali.

 (HR. Tirmidzi no. 481)

Kedua hadits di atas adalah hadits yang menjelaskan tata cara shalat tasbih. Intinya, shalat tasbih dilakukan dengan 4 raka’at. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa shalat tasbih jumlahnya empat raka’at dan tidak boleh lebih dari itu.

4997f-32265_396093339354_291202364354_4322573_5647008_n

Para Ulama yang Menshahihkan Hadits Shalat Tasbih:

  • Abu Dâud As-Sijistâny. Beliau berkata, “Tidak ada, dalam masalah shalat Tasbih, hadits yang lebih shahih dari hadits ini.”
  • Ad-Dâraquthny. Beliau berkata, “Hadits yang paling shahih dalam masalah keutamaan Al-Qur`ân adalah (hadits tentang keutamaan) Qul Huwa Allâhu Ahad, dan yang paling shahih dalam masalah keutamaan shalat adalah hadits tentang shalat Tasbih.”
  • Al-Âjurry.
  • Ibnu Mandah.
  • Al-Baihaqy.
  • Ibnu As-Sakan.
  • Abu Sa’ad As-Sam’âny.
  • Abu Musa Al-Madiny.
  • Abu Al-Hasan bin Al-Mufadhdhal Al-Maqdasy.
  • Abu Muhammad ‘Abdurrahim Al-Mishry.
  • Al-Mundziry dalam At-Targhib Wa At-Tarhib dan Mukhtashar Sunan Abu Dâud .
  • Ibnush Shalâh. Beliau berkata, “Shalat Tasbih adalah sunnah, bukan bid’ah. Hadits-haditsnya dipakai beramal dengannya.”
  • An-Nawawy dalam At-Tahdzîb Al – Asma` Wa Al-Lughât .
  • Abu Manshur Ad Dailamy dalam Musnad Al-Firdaus .
  • Shalâhuddin Al-‘Alâi. Beliau berkata, “Hadits shalat Tasbih shahih atau hasan, dan harus (tidak boleh dha’if).”
  • Sirajuddîn Al-Bilqîny. Beliau berkata, “Hadits shalat tasbih shahih dan ia mempunyai jalan-jalan yang sebagian darinya menguatkan sebagian yang lainnya, maka ia adalah sunnah dan sepantasnya diamalkan.”
  • Az-Zarkasyi. Beliau berkata, “Hadits shalat Tasbih adalah shahih dan bukan dha’if apalagi maudhu’ (palsu).”
  • As-Subki.
  • Az-Zubaidy dalam Ithâf As-Sâdah Al-Muttaqîn 3/473.
  • Ibnu Nâshiruddin Ad-Dimasqy.
  • Al-Hâfidz Ibnu Hajar dalam Al-Khishâl Al-Mukaffirah Lidzdzunûb Al-Mutaqaddimah Wal Muta`Akhkhirah , Natâijul Afkâr Fî Amâlil Adzkâr dan Al-Ajwibah ‘Alâ Ahâdits Al-Mashâbîh.
  • As-Suyûthy.
  • Al-Laknawy.
  • As-Sindy.
  • Al-Mubârakfûry dalam Tuhfah Al-Ahwadzy .
  • Al-‘Allamah Al-Muhaddits Ahmad Syâkir rahimahullâh.
  • Al-‘Allamah Al-Muhaddits Nâshiruddîn Al-Albâny rahimahullâh dalam Shahîh Abi Dâud (hadits 1173-1174), Shahîh At-Tirmidzy , Shahîh At-Targhib (1/684-686) dan Tahqîq Al-Misykah (1/1328-1329).
  • Al-‘Allamah Al-Muhaddits Muqbil bin Hâdy Al-Wâdi’iy rahimahullâh dalam Ash-Shahîh Al-Musnad Mimmâ Laisa Fî Ash-Shahihain

Do’a Setelah Shalat Tasbih:

  • اللّهُمَّاِنِّى اَسْئَلُكَ تَوْفِيْقَ اَهْلِ اْلهُدَى وَاَعْمَالَ اَهْلِاْليَقِيْن وَمُنَاصَحَةَ اَهْلِ التَّوْبَةِوَعَزَمَ اَهْلِ الصَّبْرِ وَجَدَّ اَهْلِ الْخَشْيَةِ وَطَلَبَ اَهْلِ الرَّغْبَةِ وَتَعَبُّدَاَهْلِ الْوَرَعِ وَعِرْفَانَ اَهْلِ اْلعِلْمِ حَتىَّ اَخَافَكَ .

  • اللّهُمَّ اِنِّى اَسْئَلُكَ مَخَافَةً تُحْجِزُنِى عَنْمَعَاصِيْكَحَتَّى اَعْمَلَ بِطَعَاتِكَ عَمَلاً اَسْتَحِقُ بِهِ رِضَاكَ وَحَتَّىاُنَاصِحَكَ فِىالتَّوْبَةِ خَوْفًا مِنْكَ وَحَتَّى اُخْلِصَ لَكَالنَّصِيْحَةَ حُبًّالَكَ وَحَتَّى اَتَوَكَّلَعَلَيْكَ فِى اْلأُمُوْرِكُلِّهَا وَاُحْسِنَ الظَّنَّ بِكَ سُبْحَانَ خَالِقِ النُّوْرِ رَبَّنَااَتْمِمْ لَنَا نُوْرَنَاوَغْفِرْلَنَا اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍقَدِيْر بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّّاحِمِيْن.

doa

 

Bid’ah yang sering ditemukan dalam Shalat Tasbih:

Untuk melengkapi pembahasan yang singkat ini, maka saya sertakan juga penyimpangan-penyimpangan (bid’ah–bid’ah) yang banyak terjadi disekitar pelaksanaan shalat tasbih, di antaranya adalah:

  1. Mengkhususkan pelaksanaannya pada malam Jum’at saja.
  2. Dilakukan secara berjama’ah terus menerus.
  3. Diiringi dengan bacaan-bacaan tertentu, baik sebelum maupun sesudah shalat.
  4. Tidak mau shalat kecuali bersama imamnya, jamaahnya, atau tarekatnya.
  5. Tidak mau shalat kecuali di masjid tertentu.
  6. Keyakinan sebagian orang yang melakukannya bahwa rezekinya akan bertambah dengan shalat tasbih.
  7. Membawa binatang-binatang tertentu untuk disembelih saat sebelum atau sesudah shalat tasbih, disertai dengan keyakinan-keyakinan tertentu.

Kesimpulan Hadits tentang shalat tasbih adalah hadits yang tsabit/sah dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, maka boleh diamalkan sesuai dengan tata cara yang telah disebutkan diatas.

– Wallâhu A’lam bi ash-Shawâb

#copied &edited & pasted from:

http://afifulikhwan.blogspot.my/2012/11/tata-cara-shalat-tasbih-lengkap-dan.html

 

sihir & ruqyah syariah (c&P)

MAKLUMAT BERKAITAN SIHIR Takrif Dan Pengertian Sihir:

Syeikh al-Zahri menafsirkan sihir sebagai berikut: “Sihir ialah amal perbuatan yang dilakukan dengan cara mendekatkan diri kepada syaitan dan meminta tolong kepadanya.” Pengertian asal kalimat ‘sihir’ itu sendiri ialah ‘memalingkan sesuatu dari hakikatnya kepada selainnya.’ Maka, orang yang kena sihir melihat kebatilan sebagai kebenaran dan membayangkan sesuatu tidak menurut yang sebenarnya.

Pendapat Ibnu Qadamah: ‘Sihir ialah ikatan, jampi dan perkataan yang diucapkan atau ditulis atau dibuat sesuatu yang mendatangkan kesan dan akibat buruk terhadap tubuh orang yang disihir atau terhadap hati dan akalnya tanpa menyentuhnya secara langsung.’

Teknik Merawat Orang Yang Kena Sihir:

Doa Abu Darda'

Firman Allah s.w.t yang bermaksud. :

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar (penyembuh) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al Israa’:82)

Sesetengah ulama mengatakan bahawa maksud ‘syifa’ (penawar) di sini ialah syifa’ maknawi (ubat spiritual) seperti keraguan, unsur syirik, kefasikan dan kejahatan. Ada juga mengatakan syifa’ maknawi sekaligus sebagai syifa’ hissi (ubat fizikal).

Dalam hadis yang diriwayatkan dari A’isyah r.ha. bahawa Rasulullah s.a.w. masuk kepadanya ketika ada seorang wanita yang sedang dirawat dan dibacakan ruqyah, lalu Rasulullah s.a.w. bersabda kepadanya:” Ubatilah dengan kitab Allah.’

Dari hadis di atas dapat diperhatikan Rasulullah s.a.w. menyebutkan secara umum dan baginda tidak menyebutkan ayat-ayat tertentu atau surah-surah tertentu. Dengan itu jelas sekali bahawa al-Quran seluruhnya adalah syifa’ (penawar/ubat). Pengertian Ruqyah: Ruqyah biasa dikenali sebagai jampi-jampi atau mantera. Ruqyah secara syar’i (Ruqyah Syar’iyah) adalah jampi-jampi yang dibacakan oleh seseorang untuk mengubati penyakit atau menghilangkan gangguan jin atau sihir atau untuk perlindungan dan sebagainya dengan HANYA menggunakan ayat-ayat Al-Quran dan doa-doa yang bersumber dari hadis-hadis Rasulullah s.a.w. yang dapat difahami maknanya selama tidak mengandungi unsur kesyirikan

. Jenis-jenis Sihir: 1.Sihir Pemisah

Takrif: Sihir pemisah ialah sihir yang digunakan untuk memisahkan pasangan suami-isteri atau untuk menimbulkan kebencian dan permusuhan antara dua sahabat atau antara dua rakan kongsi. Jenis-jenis Sihir Pemisah: – Memutuskan hubungan antara seseorang dengan ibunya. – Memutuskan hubungan antara seseorang dengan ayahnya. – Memutuskan hubungan antara seseorang dengan saudaranya. – Memutuskan hubungan antara seseorang dengan kawannya. – Memutuskan hubungan antara seseorang dengan rakan kongsinya dalam perniagaan atau seumpamnya. – Memisahkan hubungan antara seorang suami dengan isterinya. Inilah jenis yang palng bahaya dan paling banyak berlaku di dalam masyarakat. Tanda-tanda Sihir Pemisahan: – Perubahan tiba-tiba dari cinta menjadi benci. – Berlaku keraguan antara suami-isteri. – Enggan meminta maaf. – Membesar-besarkan perselisihan walaupun penyebabnya amat kecil. – Pandangan yang buruk seorang suami terhadap isterinya dan sebaliknya. sehingga seseorang suami melihat isterinya sangat hodoh, walalupun di mata orang lain isterinya itu sangat cantik. Berlaku juga isteri melihat suaminya dalam keadaan wajah yang menakutkan. – Orang yang kena sihir pemisah akan merasa benci setiap perbuatan yang dilakkan oleh isterinya atau suaminya. – Orang kena sihir pemisah ini benci kepada suaminya ada di rumah, misalnya isteri melihat suami di luar rumah seperti biasa, tetapi ketika masuk rumah, dia merasa amat benci

. Al-Hafiz Ibnu Kathir menjelaskan: Sebab perceraian antara suami isteri akibat sihir ialah bayangan suami atau isteri terhadap pasangannya dalam rupa atau perilaku yang buruk atau sebab-sebab lainnya yang boleh menimbulkan perceraian.

 

(c&p)KAEDAH PENITISAN DARAH ATASI STROKE BERKESAN!

alhamdulillah, semoga artikel ini dapat menjadi panduan kepada kita sewaktu dilanda saat kritikal penyakit yang digeruni ramai-angin ahmar!

(..naudzubillahi mindzaliik..)

BANTUAN KECEMASAN UNTUK PESAKIT ANGIN AHMAR / STROKE

 


Alat yang diperlukan ialah jarum suntikan ataupun jarum jahit yang kebiasaannya ada di rumah. Ianya adalah satu kaedah yang terbukti berkesan dengan izin Allah dan merupakan cara yang agak luar biasa untuk sembuh dari penyakit angin ahmar yang boleh membawa kepada lumpuh jika tidak dirawat dengan segera.

 

 

Risalah ini diterjemah dari risalah asal berbahasa Inggeris. Bacalah untuk pengetahuan anda dan mungkin ianya berguna jika ditakdirkan ada antara ahli keluarga, jiran dan rakan-rakan anda terkena penyakit ini suatu hari nanti.

 

 

Ianya amat menakjubkan jika berhasil, luangkan masa anda untuk membacanya dengan teliti dan simpan risalah ini sebab mungkin ada nyawa seseorang yang boleh diselamatkan dengan izin Allah melalui tip-tip yang akan dibincangkan.

 

 

Bapa saya meninggal dunia akibat penyakit angin ahmar 3 tahun lalu setelah terlantar lumpuh selama sebulan. Masa itu saya tidak tahu apa-apa tentang rawatan kecemasan untuk pesakit angin ahmar.

 

 

Walau bagaimanapun masih belum terlewat untuk kita kongsi bersama. Sila baca dan  sampaikan kepada saudara-mara serta rakan-rakan anda. Yayasan AMAL tidak mempunyai ramai sukarelawan perubatan bagi memenuhi permintaan rawatan dari masyarakat setempat. Semoga buletin seumpama ini boleh membantu anda melakukannya sendiri.

 

 

Apabila serangan angin ahmar mengenai seseorang, kapilari darah di dalam otaknya menghadapi risiko untuk pecah. Bila anda berhadapan dengan seseorang yang baru terkena angin ahmar dan tidak sedarkan diri,

 

 

pertama sekali anda jangan panik dan bawa bertenang. Tidak kira di mana sahaja mangsa itu berada, jangan alihkan ke tempat lain. Kerana pergerakan pada ketika itu boleh menyebabkan kapilari darah di otak mangsa terus pecah. Bantu mangsa untuk duduk dan sokong badannya supaya tidak terjatuh. Jika mangsa terjatuh semula, keadaan mungkin akan bertambah buruk.

 

 

RAWATAN KECEMASAN : ANGIN AHMAR

 

 

 

Jika di rumah anda ada jarum suntikan (alat yang terbaik), jarum jahit atau pin baju yang tidak berkarat, segera panaskan dengan api untuk disterilkan.

 

Kemudian dengan berhati-hati cucuk kesemua hujung jari-jari tangan mangsa kira-kira 1 mm dalamnya, seperti rawatan akupuntur.

Cucuklah sehingga menitiskan darah, jika perlu picitlah jari-jarinya sehingga mengeluarkan darah. setelah kesemua 10 jari mengeluarkan setitis darah tunggu beberapa minit sehingga mangsa sedar semula.

Jika berlaku perubahan bentuk mulut, tarik telinganya sehingga kemerahan. Kemudian cucuk kedua belah telinga dengan jarum sehingga mengeluarkan 2 titis darah(TELINGA KANAN & TELINGA KIRI).

 

 

 

Beberapa minit kemudian Insya Allah, mangsa akan sedar semula.

 

 

 

Tunggu sehingga mangsa benar-benar sedar kemudian bawa dia ke hospital.

 

 

Memanggil ambulance semasa mangsa pengsan dan mengejarkannya ke hospital secara tergesa-gesa sebenarnya boleh menyebabkan kapilari darah di otak mangsa pecah dan berlaku pendarahan. Sukar untuk mangsa dipulihkan apabila keadaan ini berlaku. Ada kemungkinan daya ingatan mangsa akan hilang sepenuhnya, walaupun dia mampu berjalan semula.

”Saya belajar tentang menitiskan darah bagi menyelamatkan nyawa dari seorang doktor tradisional Cina bernama Ha Bu-Tung yang tinggal di Sun-Juke. Selain itu saya juga berpengalaman mempraktikkannya. Sebab itu saya yakin cara ini adalah berkesan 100%” menurut seorang pengamal kaedah rawatan ini.

 

 

Tambah beliau lagi ”Pada tahun 1979, ketika itu saya sedang mengajar di Kolej Fung-Gaap dekat Tai- Chung. Tiba-tiba seorang guru lain berlari ke kelas saya dan mengadu; “En. Liu, penyelia kami diserang angin ahmar!.”

 

 

Saya pun bergegas ke bilik beliau di tingkat 3. Saya lihat penyelia kami, En.Chen Fu- Tien, telah menjadi pucat, percakapannya tak difahami, dan ada tanda-tanda serangan angin ahmar. Saya segera menyuruh pelajar saya membeli jarum suntikan di farmasi dan terus menyuntik jari-jarinya. Apabila kesemua 10 jarinya menitiskan darah, (setiap jari setitis darah), selang beberapa minit muka En Chen kembali kemerahan dan dia membuka matanya.

Malangnya mulut beliau masih belum normal, jadi saya menarik telinganya untuk mengalirkan darah ke situ. Bila telinganya kemerahan, saya menyucuk kedua-dua telinganya sehingga menitiskan 2 titik darah. Selepas 3-5 minit, bentuk mulutnya kembali normal dan percakapannya kembali jelas. Kami memberikan dia secawan teh panas, merehatkannya seketika sebelum membawanya ke Hospital Wei Wah.

Dia ditahan semalaman dan dibenarkan keluar keesokan harinya untuk terus bertugas di sekolah. Keadaan beliau kembali seperti biasa, tiada apa-apa kesan angin ahmar.

Kebiasaannya mangsa angin ahmar yang mengalami pendarahan di otak dalam perjalanan ke hospital adalah sukar untuk dipulihkan seperti sediakala. Angin ahmar adalah antara penyebab utama kematian. Mereka yang bernasib baik dipanjangkan umur tetapi kebanyakannya lumpuh sehingga akhir hayat.

Penyakit angin ahmar ini ada kemungkinan untuk mengenai sesiapa sahaja. Jika semua di antara kita boleh mengingati kaedah penitisan darah ini dan memulakannya segera, dalam jangka masa pendek, mangsa-mangsa boleh kita selamatkan dengan izin Allah dan ada harapan pulih seperti sediakala. Diharapkan kaedah bantuan kecemasan mangsa angin ahmar ini dapat dihebahkan supaya penyakit ini tidak tersenarai sebagai penyebab utama kematian di kalangan kita.

 

 SETIAP PENYAKIT ADA UBATNYA KECUALI MAUT DAN SETIAP YANG BERNYAWA PASTI AKAN MENGHADAPI MAUT!!

PENGHARGAAN KEPADA:

 URUSETIA AMAL KEMASEK

PT758 TINGKAT 1, BANGUNAN SEDC, KEMASEK 24200 KEMAMAN, TRENGGANU D.IMAN

TEL: 09-8662230 FAX: 09-8662231 EMAIL: info@amalmalaysia.net

panduan potong kuku cara islam

Potong Kuku Tangan & Kaki

(ikut sunnah)

Memotong kuku adalah amalan sunat.

Berkata Saidatina Aisyah bermaksud:

Sepuluh perkara dikira sebagai fitrah iaitu memotong misai, memelihara janggut, bersugi, memasukkan air ke hidung, memotong kuku, membasuh sendi-sendi, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu ari-ari, bersuci dengan air (beristinja), berkata Zakaria: Aku lupa yang ke-10 kecuali berkumur.
(Riwayat Muslim).

Dari Anas bin Malik bermaksud:
Sudah ditentukan waktu kepada kami memotong misai, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu ari-ari agar kami tidak membiarkannya lebih daripada 40 malam.
(Riwayat Muslim).

Menurut Imam Shafie:
Sunat memotong kuku sebelum mengerjakan solat Jumaat sepertimana disunatkan mandi, bersugi, berharuman, berpakaian kemas sebelum ke masjid.

Rasulullah S.A.W. bersabda bermaksud:

Sesiapa yang mandi pada hari Jumaat, bersugi, berwangian jika memilikinya dan memakai pakaian yang terbaik, kemudian keluar rumah hingga sampai ke masjid, dia tidak melangkahi orang yang sudah bersaf, kemudian mengerjakan sembahyang apa saja (sembahyangsunat ), dia diam ketika imam keluar (berkhutbah) dan tidak berkata-kata hingga selesai mengerjakan sembahyang, maka jadilah penebus dosa antara Jumaat itu dan Jumaat sebelumnya.

(Riwayat Ahmad).

Berkata Abu Hurairah R.A. bermaksud:

Nabi Muhammad S.A.W. memotong kuku dan menggunting misai pada hari Jumaat sebelum baginda keluar untuk bersembahyang.

(Riwayat al-Bazzar dan al-Tabrani).

Panduan Potong Kuku

SABDA RASULULLAH S.A.W:

Barang siapa yang mengerat kukunya pada

Hari Sabtu:Nescaya keluar dari dalam tubuhnya ubat dan masuk kepadanya penyakit.

Hari Ahad :Nescaya keluar daripadanya kekayaan dan masuk kemiskinan.

Hari Isnin :Nescaya keluar daripadanya gila dan masuk sihat

Hari Selasa:Nescaya keluar daripadanya sihat dan masuk penyakit

Hari Rabu :Nescaya keluar daripadanya was-was dan masuk kepadanya kepapaan.

Hari Khamis :Nescaya keluar daripadanya gila dan masuk kepadanya sembuh dari penyakit.

Hari Jumaat : Nescaya keluar dosa-dosanya seperti pada hari dilahirkan oleh ibunya dan masuk kepadanya rahmat daripada Allah Taala.

Isnin, Khamis dan Jumaat adalah hari yang diutamakan untuk melakukan ibadat sunat. so, sunat memotong kuku pada hari-hari tersebut!

Dan, kerat kuku bukan sebarang kerat tapi ada kaedahnya. Walaupun ia hanya kuku tapi ia adalah sebahagian dari badan kita yang perlu kita hormati. Misalnya, kerat kuku ada adabnya selain ikut hari, kita juga perlu buang kuku tu pada tempat yang tidak kotor sebagaimana yang diajar, eloklah buang ke tanah kerana kita juga adalah unsur tanah, Bukannya tong sampah sekalipun tong sampah tu bersih.

Mulakan kerat kuku tangan di mulai dengan Bismillah dan selawat Nabi dan kerat mulai jari telunjuk sebelah kanan sampai habis tangan kanan, kemudian jari kelingking sebelah kiri sampai ibu jari tangan kiri dan paling akhir sekali ibu jari tangan kanan.

Kalau kaki pula, mulakan dengan jari kelingking kaki kanan sampai kelingking kaki kiri. Itulah sunnah yang paling kuat dipegang selama ini walaupun ada banyak khilafnya.

~ sesebaik amal adalah sedikit tapi berterusan ~