Solat Tasbih & keutamaannya..

real connection

Solat sunat Tasbih ini amat dianjurkan dilakukan pada setiap malam / minggu – Jumaat / bulan / tahun / atau paling kurang dan setidak2nya sekali seumur hidup!!

Masya Allah.. hebatkan pelawaan Allah buat kita semua bagi meraih keampunanNya?? terbuka pada setiap masa – terutamanya melalui solat sunat Tasbih yang dilakukan secara ikhlas …. SubhanAllah..

tasbih tangan jer..

Dinamakan solat Sunat Tasbih kerana di dalam solat sunat biasa yang khusus ini diselangi bacaan tasbih sebanyak 300x / 4 rakaat ( 175x tasbih per rakaat!)

Tatacara perlaksanaan solat tasbih ini adalah seperti berikut:

Semua riwayat sepakat solat tasbih hanya 4 rokaat, jika pada siang hari dengan 1x salam (tanpa tasyahud awal) sebanyak 4 rakaat, sedang di malam hari dilakukan sebanyak 2 rokaat- 2 rakaat dengan 2x salam ( dengan tasbih sebanyak 75x tiap raka’atnya), jadi keseluruhan bacaan tasbih dalam shalat tasbih 4 rokaat tersebut 300x tasbih!

irhamna

Niat Shalat Tasbih:

Niat untuk shalat tasbih yang dilakukan dengan dua kali salam (2 rakaat):

أُصَلِّى سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

 

Niat untuk solat tasbih dengan 1x salam (4 rakaat)@ siang hari pula:

أُصَلِّى سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلَّهِ تَعَالَى

Secara umum, shalat tasbih sama dengan tata cara shalat yang lain, hanya saja ada tambahan bacaan tasbih yaitu:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Lafadz ini diucapkan sebanyak 75 kali pada tiap raka’at dengan perincian sebagai berikut.

Sesudah membaca Al-Fatihah dan surah sebelum ruku sebanyak 15 kali,

Ketika ruku’ sesudah membaca do’a ruku’ dibaca lagi sebanyak 10 kali,

Ketika bangun dari ruku’ sesudah bacaan i’tidal dibaca 10 kali,

Ketika sujud pertama sesudah membaca do’a sujud dibaca 10 kali,

Ketika duduk di antara dua sujud sesudah membaca bacaan antara dua sujud dibaca 10 kali tasbih,

Ketika sujud yang kedua sesudah membaca do’a sujud dibaca lagi sebanyak 10 kali,

Ketika bangun dari sujud yang kedua sebelum bangkit (duduk istirahat) dibaca lagi sebanyak 10 kali. (kemudian bangun semula berdiri  untuk rakaat yang kedua).

https://youtu.be/6t5c8PSamy8

Solat Tasbih dilakukan sebanyak 4 raka’at dengan sekali tasyahud, yaitu pada raka’at yang keempat lalu salam (jika dilakukan di siang hari@ bukan pada waktu2 terlarang!)

Dilakukan pula dengan cara dua raka’at-dua raka’at di malam hari, berpandu kepada sabda Rasulullah SAW: “Shalat malam itu, dua-dua” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim) di mana setiap dua raka’at membaca tasyahud kemudian salam.

Waktu shalat tasbih yang paling utama adalah sesudah tenggelamnya matahari, sebagaimana dalam riwayat ‘Abdullah bin Amr.

Tetapi dalam riwayat Ikrimah yang mursal diterangkan bahwa boleh malam hari dan boleh siang hari. Wallâhu A’lam.

Dalil tentang solat tasbih ini sebagaimana yang disabdakan oleh Baginda Rasulullah SAW dalam sebuah hadist dari Ibnu ‘Abbas:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله ُعَنْهُ: أَنََّ رَسُوْلُ اللهِ صَلََّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلََّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَلِّبْ: يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهْ !! أَلاَ أُعْطِيْكَ؟ أَلاَ أُمْنِحُكَ؟ أَلاَ أُحِبُّكَ؟ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشَرَ خِصَالٍ, إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَكَ ذَنْبِكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ, قَدِيْمَهُ وَحَدِيْثَهُ, خَطْأَهُ وَعَمْدَهُ, صَغِيْرَهُ وَكَبِيْرَهُ, سِرَّهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ. عَشَرَ خِصَالٍ, أَنْ تُصَلِّيْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُوْرَةً, فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ, وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاََّّ اللهِ وَالله ُأَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً, ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا, ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوْعِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, ثُمَّ تَهْوِيْ سَاجِدًا فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا, ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُوْدِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُوْنَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ, إِذَا اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيْهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِيْ كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً, فَإِنْ لََمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ سَنَةِ مَرَّةً, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ .فَفِي عُمْرِكَ مَرَّةً

Artinya:

“Dari Ibnu ‘Abbâs, bahwasanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Abbâs bin ‘Abdul Muththalib, ‘Wahai ‘Abbas, wahai pamanku, maukah kamu apabila aku beri? Bolehkah sekiranya aku beri petunjuk padamu? Tidakkah kau mau? Saya akan tunjukkan suatu perbuatan yang mengandung 10 keutamaan, yang jika kamu melakukannya maka diampuni dosamu, yaitu dari awalnya hingga akhirnya, yang lama maupun yang baru, yang tidak disengaja maupun yang disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang tersembunyi maupun yang nampak.

Semuanya 10 macam. Kamu shalat 4 rakaat. Setiap rakaat kamu membaca Al-Fatihah dan satu surah. Jika telah selesai, maka bacalah Subhanallâhi wal hamdulillâhi wa lâ ilâha illallâh wallahu akbar sebelum ruku’ sebanyak 15 kali, kemudian kamu ruku’ lalu bacalah kalimat itu di dalamnya sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari ruku’ (I’tidal) baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud lagi dan baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud sebelum berdiri baca lagi sebanyak 10 kali, maka semuanya sebanyak 75 kali setiap rakaat. Lakukan yang demikian itu dalam empat rakaat. Lakukanlah setiap hari, kalau tidak mampu lakukan setiap pekan, kalau tidak mampu setiap bulan, kalau tidak mampu setiap tahun dan jika tidak mampu maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu.”

 (HR. Abu Daud no. 1297)

Dari Anas bin Malik bahwasannya Ummu Sulaim pagi-pagi menemui Baginda Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ajarilah saya beberapa kalimat yang saya ucapkan didalam shalatku, maka beliau bersabda:

كَبِّرِى اللَّهَ عَشْرًا وَسَبِّحِى اللَّهَ عَشْرًا وَاحْمَدِيهِ عَشْرًا ثُمَّ سَلِى مَا شِئْتِ يَقُولُ نَعَمْ نَعَمْ ». قَالَ وَفِى الْبَابِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَالْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِى رَافِعٍ. قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَنَسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. وَقَدْ رُوِىَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- غَيْرُ حَدِيثٍ فِى صَلاَةِ التَّسْبِيحِ وَلاَ يَصِحُّ مِنْهُ كَبِيرُ شَىْءٍ. وَقَدْ رَأَى ابْنُ الْمُبَارَكِ وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ صَلاَةَ التَّسْبِيحِ وَذَكَرُوا الْفَضْلَ فِيهِ. حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ حَدَّثَنَا أَبُو وَهْبٍ قَالَ سَأَلْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ عَنِ الصَّلاَةِ الَّتِى يُسَبَّحُ فِيهَا فَقَالَ يُكَبِّرُ ثُمَّ يَقُولُ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ ثُمَّ يَقُولُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَتَعَوَّذُ وَيَقْرَأُ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) وَفَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً ثُمَّ يَقُولُ عَشْرَ مَرَّاتٍ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَرْكَعُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا. ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فَيَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ يَسْجُدُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ يَسْجُدُ الثَّانِيَةَ فَيَقُولُهَا عَشْرًا يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ عَلَى هَذَا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ تَسْبِيحَةً فِى كُلِّ رَكْعَةٍ يَبْدَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ بِخَمْسَ عَشْرَةَ تَسْبِيحَةً ثُمَّ يَقْرَأُ ثُمَّ يُسَبِّحُ عَشْرًا فَإِنْ صَلَّى لَيْلاً فَأَحَبُّ إِلَىَّ أَنْ يُسَلِّمَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ وَإِنْ صَلَّى نَهَارًا فَإِنْ شَاءَ سَلَّمَ وَإِنْ شَاءَ لَمْ يُسَلِّمْ. قَالَ أَبُو وَهْبٍ وَأَخْبَرَنِى عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِى رِزْمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ قَالَ يَبْدَأُ فِى الرُّكُوعِ بِسُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ وَفِى السُّجُودِ بِسُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى ثَلاَثًا ثُمَّ يُسَبِّحُ التَّسْبِيحَاتِ. قَالَ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ وَحَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ زَمْعَةَ قَالَ أَخْبَرَنِى عَبْدُ الْعَزِيزِ وَهُوَ ابْنُ أَبِى رِزْمَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ إِنْ سَهَا فِيهَا يُسَبِّحُ فِى سَجْدَتَىِ السَّهْوِ عَشْرًا عَشْرًا قَالَ لاَ إِنَّمَا هِىَ ثَلاَثُمِائَةِ تَسْبِيحَةٍ.

Artinya:

“Bertakbirlah kepada Allah sebanyak sepuluh kali, bertasbihlah kepada Allah sepuluh kali dan bertahmidlah (mengucapkan Alhamdulillah) sepuluh kali, kemudian memohonlah (kepada Allah) apa yang kamu kehendaki, niscaya Dia akan menjawab: ya, ya, (Aku kabulkan permintaanmu).” (perawi) berkata, dalam bab ini (ada juga riwayat -pent) dari Ibnu Abbas, Abdullah bin Amru, Al Fadll bin Abbas dan Abu Rafi’. Abu Isa berkata, hadits anas adalah hadits hasan gharib, telah diriwayatkan dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam selain hadits ini mengenai shalat tasbih, yang kebanyakan (riwayatnya) tidak shahih. Ibnu Mubarrak dan beberapa ulama lainnya berpendapat akan adanya shalat tasbih, mereka juga menyebutkan keutamaan shalat tasbih. Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin ‘Abdah Telah mengabarkan kepada kami Abu Wahb dia berkata, saya bertanya kepada Abdullah bin Al Mubarak tentang shalat tasbih yang didalamnya terdapat bacaan tasbihnya, dia menjawab, ia bertakbir kemudian membaca Subhaanaka Allahumma Wa Bihamdika Wa Tabaarakasmuka Wa Ta’ala Jadduka Walaa Ilaaha Ghairuka kemudian dia membaca Subhaanallah Walhamdulillah Wa Laailaaha Illallah Wallahu Akbar sebanyak lima belas kali, kemudian ia berta’awudz dan membaca bismillah dilanjutkan dengan membaca surat Al fatihah dan surat yang lain, kemudian ia membaca Subhaanallah Walhamdulillah Wa Laailaaha Illallah Wallahu Akbar sebanyak sepuluh kali, kemudian ruku’ dan membaca kalimat itu sepuluh kali, lalu mengangkat kepala dari ruku’ dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, kemudian sujud dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, lalu mengangkat kepalanya dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, kemudian sujud yang kedua kali dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, ia melakukan seperti itu sebanyak empat raka’at, yang setiap satu raka’atnya membaca tasbih sebanyak tujuh puluh lima kali, disetiap raka’atnnya membaca lima belas kali tasbih, kemudian membaca Al Fatehah dan surat sesudahnya serta membaca tasbih sepuluh kali-sepuluh kali, jika ia shalat malam, maka yang lebih disenagi adalah salam pada setiap dua raka’atnya. Jika ia shalat disiang hari, maka ia boleh salam (di raka’at kedua) atau tidak. Abu Wahb berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Abdul ‘Aziz bin Abu Rizmah dari Abdullah bahwa dia berkata, sewaktu ruku’ hendaknya dimulai dengan bacaan Subhaana Rabbiyal ‘Adziimi, begitu juga waktu sujud hendaknya dimulai dengan bacaan Subhaana Rabbiyal A’la sebanyak tiga kali, kemudian membaca tasbih beberapa kali bacaan. Ahmad bin ‘Abdah berkata, Telah mengabarkan kepada kami Wahb bin Zam’ah dia berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Abdul ‘Aziz dia adalah Ibnu Abu Zirmah, dia berkata, saya bertanya kepada Abdullah bin Mubarak, jika seseorang lupa (waktu mengerjakan shalat tasbih) apakah ia harus membaca tasbih pada dua sujud sahwi sebanyak sepuluh kali-sepuluh kali? Dia menjawab, tidak, hanya saja (semua bacaan tasbih pada shalat tasbih) ada tiga ratus kali.

 (HR. Tirmidzi no. 481)

Kedua hadits di atas adalah hadits yang menjelaskan tata cara shalat tasbih. Intinya, shalat tasbih dilakukan dengan 4 raka’at. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa shalat tasbih jumlahnya empat raka’at dan tidak boleh lebih dari itu.

4997f-32265_396093339354_291202364354_4322573_5647008_n

Para Ulama yang Menshahihkan Hadits Shalat Tasbih:

  • Abu Dâud As-Sijistâny. Beliau berkata, “Tidak ada, dalam masalah shalat Tasbih, hadits yang lebih shahih dari hadits ini.”
  • Ad-Dâraquthny. Beliau berkata, “Hadits yang paling shahih dalam masalah keutamaan Al-Qur`ân adalah (hadits tentang keutamaan) Qul Huwa Allâhu Ahad, dan yang paling shahih dalam masalah keutamaan shalat adalah hadits tentang shalat Tasbih.”
  • Al-Âjurry.
  • Ibnu Mandah.
  • Al-Baihaqy.
  • Ibnu As-Sakan.
  • Abu Sa’ad As-Sam’âny.
  • Abu Musa Al-Madiny.
  • Abu Al-Hasan bin Al-Mufadhdhal Al-Maqdasy.
  • Abu Muhammad ‘Abdurrahim Al-Mishry.
  • Al-Mundziry dalam At-Targhib Wa At-Tarhib dan Mukhtashar Sunan Abu Dâud .
  • Ibnush Shalâh. Beliau berkata, “Shalat Tasbih adalah sunnah, bukan bid’ah. Hadits-haditsnya dipakai beramal dengannya.”
  • An-Nawawy dalam At-Tahdzîb Al – Asma` Wa Al-Lughât .
  • Abu Manshur Ad Dailamy dalam Musnad Al-Firdaus .
  • Shalâhuddin Al-‘Alâi. Beliau berkata, “Hadits shalat Tasbih shahih atau hasan, dan harus (tidak boleh dha’if).”
  • Sirajuddîn Al-Bilqîny. Beliau berkata, “Hadits shalat tasbih shahih dan ia mempunyai jalan-jalan yang sebagian darinya menguatkan sebagian yang lainnya, maka ia adalah sunnah dan sepantasnya diamalkan.”
  • Az-Zarkasyi. Beliau berkata, “Hadits shalat Tasbih adalah shahih dan bukan dha’if apalagi maudhu’ (palsu).”
  • As-Subki.
  • Az-Zubaidy dalam Ithâf As-Sâdah Al-Muttaqîn 3/473.
  • Ibnu Nâshiruddin Ad-Dimasqy.
  • Al-Hâfidz Ibnu Hajar dalam Al-Khishâl Al-Mukaffirah Lidzdzunûb Al-Mutaqaddimah Wal Muta`Akhkhirah , Natâijul Afkâr Fî Amâlil Adzkâr dan Al-Ajwibah ‘Alâ Ahâdits Al-Mashâbîh.
  • As-Suyûthy.
  • Al-Laknawy.
  • As-Sindy.
  • Al-Mubârakfûry dalam Tuhfah Al-Ahwadzy .
  • Al-‘Allamah Al-Muhaddits Ahmad Syâkir rahimahullâh.
  • Al-‘Allamah Al-Muhaddits Nâshiruddîn Al-Albâny rahimahullâh dalam Shahîh Abi Dâud (hadits 1173-1174), Shahîh At-Tirmidzy , Shahîh At-Targhib (1/684-686) dan Tahqîq Al-Misykah (1/1328-1329).
  • Al-‘Allamah Al-Muhaddits Muqbil bin Hâdy Al-Wâdi’iy rahimahullâh dalam Ash-Shahîh Al-Musnad Mimmâ Laisa Fî Ash-Shahihain

Do’a Setelah Shalat Tasbih:

  • اللّهُمَّاِنِّى اَسْئَلُكَ تَوْفِيْقَ اَهْلِ اْلهُدَى وَاَعْمَالَ اَهْلِاْليَقِيْن وَمُنَاصَحَةَ اَهْلِ التَّوْبَةِوَعَزَمَ اَهْلِ الصَّبْرِ وَجَدَّ اَهْلِ الْخَشْيَةِ وَطَلَبَ اَهْلِ الرَّغْبَةِ وَتَعَبُّدَاَهْلِ الْوَرَعِ وَعِرْفَانَ اَهْلِ اْلعِلْمِ حَتىَّ اَخَافَكَ .

  • اللّهُمَّ اِنِّى اَسْئَلُكَ مَخَافَةً تُحْجِزُنِى عَنْمَعَاصِيْكَحَتَّى اَعْمَلَ بِطَعَاتِكَ عَمَلاً اَسْتَحِقُ بِهِ رِضَاكَ وَحَتَّىاُنَاصِحَكَ فِىالتَّوْبَةِ خَوْفًا مِنْكَ وَحَتَّى اُخْلِصَ لَكَالنَّصِيْحَةَ حُبًّالَكَ وَحَتَّى اَتَوَكَّلَعَلَيْكَ فِى اْلأُمُوْرِكُلِّهَا وَاُحْسِنَ الظَّنَّ بِكَ سُبْحَانَ خَالِقِ النُّوْرِ رَبَّنَااَتْمِمْ لَنَا نُوْرَنَاوَغْفِرْلَنَا اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍقَدِيْر بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّّاحِمِيْن.

doa

 

Bid’ah yang sering ditemukan dalam Shalat Tasbih:

Untuk melengkapi pembahasan yang singkat ini, maka saya sertakan juga penyimpangan-penyimpangan (bid’ah–bid’ah) yang banyak terjadi disekitar pelaksanaan shalat tasbih, di antaranya adalah:

  1. Mengkhususkan pelaksanaannya pada malam Jum’at saja.
  2. Dilakukan secara berjama’ah terus menerus.
  3. Diiringi dengan bacaan-bacaan tertentu, baik sebelum maupun sesudah shalat.
  4. Tidak mau shalat kecuali bersama imamnya, jamaahnya, atau tarekatnya.
  5. Tidak mau shalat kecuali di masjid tertentu.
  6. Keyakinan sebagian orang yang melakukannya bahwa rezekinya akan bertambah dengan shalat tasbih.
  7. Membawa binatang-binatang tertentu untuk disembelih saat sebelum atau sesudah shalat tasbih, disertai dengan keyakinan-keyakinan tertentu.

Kesimpulan Hadits tentang shalat tasbih adalah hadits yang tsabit/sah dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, maka boleh diamalkan sesuai dengan tata cara yang telah disebutkan diatas.

– Wallâhu A’lam bi ash-Shawâb

#copied &edited & pasted from:

http://afifulikhwan.blogspot.my/2012/11/tata-cara-shalat-tasbih-lengkap-dan.html

 

Advertisements

10 Nasihat (wasiat) Imam Shafie:

sayyidul_istighfar

https://youtu.be/GM_rqeCi_qs

10 Nasihat Imam Syafie:

SEBELUM Imam Syafie pulang ke rahmatullah,beliau sempat berwasiat kepada para muridnya dan umat Islam seluruhnya seperti berikut:

Barangsiapa yang ingin meninggalkan dunia dalam keadaan selamat maka hendaklah ia mengamalkan sepuluh (10) perkara.

PERTAMA: HAK KEPADA DIRI.

Iaitu: Mengurangkan tidur, mengurangkan makan, mengurangkan percakapan dan berpada-pada dengan rezeki yang ada.

KEDUA: HAK KEPADA MALAIKAT MAUT

Iaitu: Mengqadhakan kewajipan-kewajipan yang tertinggal, mendapatkan kemaafan dari orang yang kita zalimi, membuat
persediaan untuk mati dan merasa cinta kepada Allah.

KETIGA : HAK KEPADA KUBUR

Iaitu : Membuang tabiat suka menabur fitnah, membuang tabiat kencing merata-rata, memperbanyakkan solat Tahajjud dan membantu orang yang dizalimi.

KEEMPAT: HAK KEPADA MUNKAR DAN NAKIR

Iaitu : Tidak berdusta, berkata benar, meninggalkan maksiat dan nasihat menasihati.

KELIMA : HAK KEPADA MIZAN (NERACA TIMBANGAN AMAL PADA HARI KIAMAT)

Iaitu : Menahan kemarahan, banyak berzikir, mengikhlaskan amalan dan sanggup menanggung kesusahan.

KEENAM : HAK KEPADA SIRAT (TITIAN YANG MERENTANGI NERAKA PADA HARI AKHIRAT)

Iaitu : Membuang tabiat suka mengumpat, bersikap warak, suka membantu orang beriman dan suka berjemaah.

KETUJUH : HAK KEPADA MALIK (PENJAGA NERAKA)

Iaitu : Menangis lantaran takutkan Allah SWT, berbuat baik kepada ibu bapa, bersedekah secara terang-terangan serta sembunyi dan memperelok akhlak.

KELAPAN : HAK KEPADA RIDHWAN (MALAIKAT PENJAGA SYURGA)

Iaitu : Berasa redha dengan Qadha’ Allah, bersabar menerima bala, bersyukur ke atas nikmat Allah dan bertaubat dari melakukan maksiat.

KESEMBILAN : HAK KEPADA NABI S.A.W

Iaitu : Berselawat ke atas baginda, berpegang dengan syariat, bergantung kepada as-Sunnah (Hadith), menyayangi para sahabat, dan bersaing dalam mencari keredhaan Allah.

KESEPULUH : HAK KEPADA ALLAH SWT

Iaitu : Mengajak manusia ke arah kebaikan, mencegah manusia dari kemungkaran, menyukai ketaatan dan membenci kemaksiatan.

http://cetusanmuallim.blogspot.my/2013/02/10-nasihat-imam-syafie.html

10 Wasiat Imam Shafie

 

ea793-indukhikmah

Salam Eidul Fitri 1437h!

eid_mubarak3.jpg

assalaam wbt.

MAAF ZAHIR BATIN, YE!!

Saya mengambil peluang ini memohon kemaafan dari kalian atas segala ketelanjuran bicara dan sikap sepanjang perkenalan di sini..

eid_mubarak 1433h

Harap sudi juga dihalalkan segala bentuk perkongsian ilmu yang disentap tanpa rela.. uhh2x.. sekadar niat pengamatan diri untuk semua..

SALAM EID MUBARAK, 1433H

MAAF ZAHIR BATIN, k!

EID MUBARAK!

EID MUBARAK!

Eid-Mubarak-Greeting-Cards

wassalaam wbt.

#1Syawal,1437h=6Julai,2016(Khamis)

 

Solat Tasbih & keutamaannya..

real connection

Solat sunat Tasbih ini amat dianjurkan dilakukan pada setiap malam / minggu – Jumaat / bulan / tahun / atau paling kurang dan setidak2nya sekali seumur hidup!!

Masya Allah.. hebatkan pelawaan Allah buat kita semua bagi meraih keampunanNya?? terbuka pada setiap masa – terutamanya melalui solat sunat Tasbih yang dilakukan secara ikhlas …. SubhanAllah..

tasbih tangan jer..

Dinamakan solat Sunat Tasbih kerana di dalam solat sunat biasa yang khusus ini diselangi bacaan tasbih sebanyak 300x / 4 rakaat ( 175x tasbih per rakaat!)

Tatacara perlaksanaan solat tasbih ini adalah seperti berikut:

Semua riwayat sepakat solat tasbih hanya 4 rokaat, jika pada siang hari dengan 1x salam (tanpa tasyahud awal) sebanyak 4 rakaat, sedang di malam hari dilakukan sebanyak 2 rokaat- 2 rakaat dengan 2x salam ( dengan tasbih sebanyak 75x tiap raka’atnya), jadi keseluruhan bacaan tasbih dalam shalat tasbih 4 rokaat tersebut 300x tasbih!

irhamna

Niat Shalat Tasbih:

Niat untuk shalat tasbih yang dilakukan dengan dua kali salam (2 rakaat):

أُصَلِّى سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

 

Niat untuk solat tasbih dengan 1x salam (4 rakaat)@ siang hari pula:

أُصَلِّى سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلَّهِ تَعَالَى

Secara umum, shalat tasbih sama dengan tata cara shalat yang lain, hanya saja ada tambahan bacaan tasbih yaitu:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Lafadz ini diucapkan sebanyak 75 kali pada tiap raka’at dengan perincian sebagai berikut.
Sesudah membaca Al-Fatihah dan surah sebelum ruku sebanyak 15 kali,
Ketika ruku’ sesudah membaca do’a ruku’ dibaca lagi sebanyak 10 kali,
Ketika bangun dari ruku’ sesudah bacaan i’tidal dibaca 10 kali,
Ketika sujud pertama sesudah membaca do’a sujud dibaca 10 kali,
Ketika duduk di antara dua sujud sesudah membaca bacaan antara dua sujud dibaca 10 kali tasbih,
Ketika sujud yang kedua sesudah membaca do’a sujud dibaca lagi sebanyak 10 kali,
Ketika bangun dari sujud yang kedua sebelum bangkit (duduk istirahat) dibaca lagi sebanyak 10 kali. (kemudian bangun semula berdiri  untuk rakaat yang kedua).

https://youtu.be/6t5c8PSamy8

Solat Tasbih dilakukan sebanyak 4 raka’at dengan sekali tasyahud, yaitu pada raka’at yang keempat lalu salam (jika dilakukan di siang hari@ bukan pada waktu2 terlarang!)

Dilakukan pula dengan cara dua raka’at-dua raka’at di malam hari, berpandu kepada sabda Rasulullah SAW: “Shalat malam itu, dua-dua” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim) di mana setiap dua raka’at membaca tasyahud kemudian salam.

Waktu shalat tasbih yang paling utama adalah sesudah tenggelamnya matahari, sebagaimana dalam riwayat ‘Abdullah bin Amr.

Tetapi dalam riwayat Ikrimah yang mursal diterangkan bahwa boleh malam hari dan boleh siang hari. Wallâhu A’lam.

Dalil tentang solat tasbih ini sebagaimana yang disabdakan oleh Baginda Rasulullah SAW dalam sebuah hadist dari Ibnu ‘Abbas:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله ُعَنْهُ: أَنََّ رَسُوْلُ اللهِ صَلََّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلََّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَلِّبْ: يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهْ !! أَلاَ أُعْطِيْكَ؟ أَلاَ أُمْنِحُكَ؟ أَلاَ أُحِبُّكَ؟ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشَرَ خِصَالٍ, إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَكَ ذَنْبِكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ, قَدِيْمَهُ وَحَدِيْثَهُ, خَطْأَهُ وَعَمْدَهُ, صَغِيْرَهُ وَكَبِيْرَهُ, سِرَّهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ. عَشَرَ خِصَالٍ, أَنْ تُصَلِّيْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُوْرَةً, فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ, وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاََّّ اللهِ وَالله ُأَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً, ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا, ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوْعِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, ثُمَّ تَهْوِيْ سَاجِدًا فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا, ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُوْدِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا, فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُوْنَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ, إِذَا اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيْهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِيْ كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً, فَإِنْ لََمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ سَنَةِ مَرَّةً, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ .فَفِي عُمْرِكَ مَرَّةً

Artinya:

“Dari Ibnu ‘Abbâs, bahwasanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Abbâs bin ‘Abdul Muththalib, ‘Wahai ‘Abbas, wahai pamanku, maukah kamu apabila aku beri? Bolehkah sekiranya aku beri petunjuk padamu? Tidakkah kau mau? Saya akan tunjukkan suatu perbuatan yang mengandung 10 keutamaan, yang jika kamu melakukannya maka diampuni dosamu, yaitu dari awalnya hingga akhirnya, yang lama maupun yang baru, yang tidak disengaja maupun yang disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang tersembunyi maupun yang nampak.
Semuanya 10 macam. Kamu shalat 4 rakaat. Setiap rakaat kamu membaca Al-Fatihah dan satu surah. Jika telah selesai, maka bacalah Subhanallâhi wal hamdulillâhi wa lâ ilâha illallâh wallahu akbar sebelum ruku’ sebanyak 15 kali, kemudian kamu ruku’ lalu bacalah kalimat itu di dalamnya sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari ruku’ (I’tidal) baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud lagi dan baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud sebelum berdiri baca lagi sebanyak 10 kali, maka semuanya sebanyak 75 kali setiap rakaat. Lakukan yang demikian itu dalam empat rakaat. Lakukanlah setiap hari, kalau tidak mampu lakukan setiap pekan, kalau tidak mampu setiap bulan, kalau tidak mampu setiap tahun dan jika tidak mampu maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu.”

 (HR. Abu Daud no. 1297)

Dari Anas bin Malik bahwasannya Ummu Sulaim pagi-pagi menemui Baginda Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ajarilah saya beberapa kalimat yang saya ucapkan didalam shalatku, maka beliau bersabda:

كَبِّرِى اللَّهَ عَشْرًا وَسَبِّحِى اللَّهَ عَشْرًا وَاحْمَدِيهِ عَشْرًا ثُمَّ سَلِى مَا شِئْتِ يَقُولُ نَعَمْ نَعَمْ ». قَالَ وَفِى الْبَابِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَالْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِى رَافِعٍ. قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَنَسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. وَقَدْ رُوِىَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- غَيْرُ حَدِيثٍ فِى صَلاَةِ التَّسْبِيحِ وَلاَ يَصِحُّ مِنْهُ كَبِيرُ شَىْءٍ. وَقَدْ رَأَى ابْنُ الْمُبَارَكِ وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ صَلاَةَ التَّسْبِيحِ وَذَكَرُوا الْفَضْلَ فِيهِ. حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ حَدَّثَنَا أَبُو وَهْبٍ قَالَ سَأَلْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ عَنِ الصَّلاَةِ الَّتِى يُسَبَّحُ فِيهَا فَقَالَ يُكَبِّرُ ثُمَّ يَقُولُ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ ثُمَّ يَقُولُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَتَعَوَّذُ وَيَقْرَأُ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) وَفَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً ثُمَّ يَقُولُ عَشْرَ مَرَّاتٍ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَرْكَعُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا. ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فَيَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ يَسْجُدُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ يَسْجُدُ الثَّانِيَةَ فَيَقُولُهَا عَشْرًا يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ عَلَى هَذَا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ تَسْبِيحَةً فِى كُلِّ رَكْعَةٍ يَبْدَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ بِخَمْسَ عَشْرَةَ تَسْبِيحَةً ثُمَّ يَقْرَأُ ثُمَّ يُسَبِّحُ عَشْرًا فَإِنْ صَلَّى لَيْلاً فَأَحَبُّ إِلَىَّ أَنْ يُسَلِّمَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ وَإِنْ صَلَّى نَهَارًا فَإِنْ شَاءَ سَلَّمَ وَإِنْ شَاءَ لَمْ يُسَلِّمْ. قَالَ أَبُو وَهْبٍ وَأَخْبَرَنِى عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِى رِزْمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ قَالَ يَبْدَأُ فِى الرُّكُوعِ بِسُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ وَفِى السُّجُودِ بِسُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى ثَلاَثًا ثُمَّ يُسَبِّحُ التَّسْبِيحَاتِ. قَالَ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ وَحَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ زَمْعَةَ قَالَ أَخْبَرَنِى عَبْدُ الْعَزِيزِ وَهُوَ ابْنُ أَبِى رِزْمَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ إِنْ سَهَا فِيهَا يُسَبِّحُ فِى سَجْدَتَىِ السَّهْوِ عَشْرًا عَشْرًا قَالَ لاَ إِنَّمَا هِىَ ثَلاَثُمِائَةِ تَسْبِيحَةٍ.

Artinya:
“Bertakbirlah kepada Allah sebanyak sepuluh kali, bertasbihlah kepada Allah sepuluh kali dan bertahmidlah (mengucapkan Alhamdulillah) sepuluh kali, kemudian memohonlah (kepada Allah) apa yang kamu kehendaki, niscaya Dia akan menjawab: ya, ya, (Aku kabulkan permintaanmu).” (perawi) berkata, dalam bab ini (ada juga riwayat -pent) dari Ibnu Abbas, Abdullah bin Amru, Al Fadll bin Abbas dan Abu Rafi’. Abu Isa berkata, hadits anas adalah hadits hasan gharib, telah diriwayatkan dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam selain hadits ini mengenai shalat tasbih, yang kebanyakan (riwayatnya) tidak shahih. Ibnu Mubarrak dan beberapa ulama lainnya berpendapat akan adanya shalat tasbih, mereka juga menyebutkan keutamaan shalat tasbih. Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin ‘Abdah Telah mengabarkan kepada kami Abu Wahb dia berkata, saya bertanya kepada Abdullah bin Al Mubarak tentang shalat tasbih yang didalamnya terdapat bacaan tasbihnya, dia menjawab, ia bertakbir kemudian membaca Subhaanaka Allahumma Wa Bihamdika Wa Tabaarakasmuka Wa Ta’ala Jadduka Walaa Ilaaha Ghairuka kemudian dia membaca Subhaanallah Walhamdulillah Wa Laailaaha Illallah Wallahu Akbar sebanyak lima belas kali, kemudian ia berta’awudz dan membaca bismillah dilanjutkan dengan membaca surat Al fatihah dan surat yang lain, kemudian ia membaca Subhaanallah Walhamdulillah Wa Laailaaha Illallah Wallahu Akbar sebanyak sepuluh kali, kemudian ruku’ dan membaca kalimat itu sepuluh kali, lalu mengangkat kepala dari ruku’ dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, kemudian sujud dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, lalu mengangkat kepalanya dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, kemudian sujud yang kedua kali dengan membaca kalimat tersebut sepuluh kali, ia melakukan seperti itu sebanyak empat raka’at, yang setiap satu raka’atnya membaca tasbih sebanyak tujuh puluh lima kali, disetiap raka’atnnya membaca lima belas kali tasbih, kemudian membaca Al Fatehah dan surat sesudahnya serta membaca tasbih sepuluh kali-sepuluh kali, jika ia shalat malam, maka yang lebih disenagi adalah salam pada setiap dua raka’atnya. Jika ia shalat disiang hari, maka ia boleh salam (di raka’at kedua) atau tidak. Abu Wahb berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Abdul ‘Aziz bin Abu Rizmah dari Abdullah bahwa dia berkata, sewaktu ruku’ hendaknya dimulai dengan bacaan Subhaana Rabbiyal ‘Adziimi, begitu juga waktu sujud hendaknya dimulai dengan bacaan Subhaana Rabbiyal A’la sebanyak tiga kali, kemudian membaca tasbih beberapa kali bacaan. Ahmad bin ‘Abdah berkata, Telah mengabarkan kepada kami Wahb bin Zam’ah dia berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Abdul ‘Aziz dia adalah Ibnu Abu Zirmah, dia berkata, saya bertanya kepada Abdullah bin Mubarak, jika seseorang lupa (waktu mengerjakan shalat tasbih) apakah ia harus membaca tasbih pada dua sujud sahwi sebanyak sepuluh kali-sepuluh kali? Dia menjawab, tidak, hanya saja (semua bacaan tasbih pada shalat tasbih) ada tiga ratus kali.

 (HR. Tirmidzi no. 481)

Kedua hadits di atas adalah hadits yang menjelaskan tata cara shalat tasbih. Intinya, shalat tasbih dilakukan dengan 4 raka’at. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa shalat tasbih jumlahnya empat raka’at dan tidak boleh lebih dari itu.

4997f-32265_396093339354_291202364354_4322573_5647008_n

Para Ulama yang Menshahihkan Hadits Shalat Tasbih:

  • Abu Dâud As-Sijistâny. Beliau berkata, “Tidak ada, dalam masalah shalat Tasbih, hadits yang lebih shahih dari hadits ini.”
  • Ad-Dâraquthny. Beliau berkata, “Hadits yang paling shahih dalam masalah keutamaan Al-Qur`ân adalah (hadits tentang keutamaan) Qul Huwa Allâhu Ahad, dan yang paling shahih dalam masalah keutamaan shalat adalah hadits tentang shalat Tasbih.”
  • Al-Âjurry.
  • Ibnu Mandah.
  • Al-Baihaqy.
  • Ibnu As-Sakan.
  • Abu Sa’ad As-Sam’âny.
  • Abu Musa Al-Madiny.
  • Abu Al-Hasan bin Al-Mufadhdhal Al-Maqdasy.
  • Abu Muhammad ‘Abdurrahim Al-Mishry.
  • Al-Mundziry dalam At-Targhib Wa At-Tarhib dan Mukhtashar Sunan Abu Dâud .
  • Ibnush Shalâh. Beliau berkata, “Shalat Tasbih adalah sunnah, bukan bid’ah. Hadits-haditsnya dipakai beramal dengannya.”
  • An-Nawawy dalam At-Tahdzîb Al – Asma` Wa Al-Lughât .
  • Abu Manshur Ad Dailamy dalam Musnad Al-Firdaus .
  • Shalâhuddin Al-‘Alâi. Beliau berkata, “Hadits shalat Tasbih shahih atau hasan, dan harus (tidak boleh dha’if).”
  • Sirajuddîn Al-Bilqîny. Beliau berkata, “Hadits shalat tasbih shahih dan ia mempunyai jalan-jalan yang sebagian darinya menguatkan sebagian yang lainnya, maka ia adalah sunnah dan sepantasnya diamalkan.”
  • Az-Zarkasyi. Beliau berkata, “Hadits shalat Tasbih adalah shahih dan bukan dha’if apalagi maudhu’ (palsu).”
  • As-Subki.
  • Az-Zubaidy dalam Ithâf As-Sâdah Al-Muttaqîn 3/473.
  • Ibnu Nâshiruddin Ad-Dimasqy.
  • Al-Hâfidz Ibnu Hajar dalam Al-Khishâl Al-Mukaffirah Lidzdzunûb Al-Mutaqaddimah Wal Muta`Akhkhirah , Natâijul Afkâr Fî Amâlil Adzkâr dan Al-Ajwibah ‘Alâ Ahâdits Al-Mashâbîh.
  • As-Suyûthy.
  • Al-Laknawy.
  • As-Sindy.
  • Al-Mubârakfûry dalam Tuhfah Al-Ahwadzy .
  • Al-‘Allamah Al-Muhaddits Ahmad Syâkir rahimahullâh.
  • Al-‘Allamah Al-Muhaddits Nâshiruddîn Al-Albâny rahimahullâh dalam Shahîh Abi Dâud (hadits 1173-1174), Shahîh At-Tirmidzy , Shahîh At-Targhib (1/684-686) dan Tahqîq Al-Misykah (1/1328-1329).
  • Al-‘Allamah Al-Muhaddits Muqbil bin Hâdy Al-Wâdi’iy rahimahullâh dalam Ash-Shahîh Al-Musnad Mimmâ Laisa Fî Ash-Shahihain

Do’a Setelah Shalat Tasbih:

  • اللّهُمَّاِنِّى اَسْئَلُكَ تَوْفِيْقَ اَهْلِ اْلهُدَى وَاَعْمَالَ اَهْلِاْليَقِيْن وَمُنَاصَحَةَ اَهْلِ التَّوْبَةِوَعَزَمَ اَهْلِ الصَّبْرِ وَجَدَّ اَهْلِ الْخَشْيَةِ وَطَلَبَ اَهْلِ الرَّغْبَةِ وَتَعَبُّدَاَهْلِ الْوَرَعِ وَعِرْفَانَ اَهْلِ اْلعِلْمِ حَتىَّ اَخَافَكَ .

  • اللّهُمَّ اِنِّى اَسْئَلُكَ مَخَافَةً تُحْجِزُنِى عَنْمَعَاصِيْكَحَتَّى اَعْمَلَ بِطَعَاتِكَ عَمَلاً اَسْتَحِقُ بِهِ رِضَاكَ وَحَتَّىاُنَاصِحَكَ فِىالتَّوْبَةِ خَوْفًا مِنْكَ وَحَتَّى اُخْلِصَ لَكَالنَّصِيْحَةَ حُبًّالَكَ وَحَتَّى اَتَوَكَّلَعَلَيْكَ فِى اْلأُمُوْرِكُلِّهَا وَاُحْسِنَ الظَّنَّ بِكَ سُبْحَانَ خَالِقِ النُّوْرِ رَبَّنَااَتْمِمْ لَنَا نُوْرَنَاوَغْفِرْلَنَا اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍقَدِيْر بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّّاحِمِيْن.

doa

 

Bid’ah yang sering ditemukan dalam Shalat Tasbih:

Untuk melengkapi pembahasan yang singkat ini, maka saya sertakan juga penyimpangan-penyimpangan (bid’ah–bid’ah) yang banyak terjadi disekitar pelaksanaan shalat tasbih, di antaranya adalah:

  1. Mengkhususkan pelaksanaannya pada malam Jum’at saja.
  2. Dilakukan secara berjama’ah terus menerus.
  3. Diiringi dengan bacaan-bacaan tertentu, baik sebelum maupun sesudah shalat.
  4. Tidak mau shalat kecuali bersama imamnya, jamaahnya, atau tarekatnya.
  5. Tidak mau shalat kecuali di masjid tertentu.
  6. Keyakinan sebagian orang yang melakukannya bahwa rezekinya akan bertambah dengan shalat tasbih.
  7. Membawa binatang-binatang tertentu untuk disembelih saat sebelum atau sesudah shalat tasbih, disertai dengan keyakinan-keyakinan tertentu.

Kesimpulan Hadits tentang shalat tasbih adalah hadits yang tsabit/sah dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, maka boleh diamalkan sesuai dengan tata cara yang telah disebutkan diatas.

– Wallâhu A’lam bi ash-Shawâb

#copied &edited & pasted from:

http://afifulikhwan.blogspot.my/2012/11/tata-cara-shalat-tasbih-lengkap-dan.html

 

Taraweeh Makkah 1436h @ 2015 Ramadhan

silakan klik ke www.haramain.info untuk maklumat info solat teraweeh dan sekitarnya lively!

https://www.youtube.com/watch?v=KbywgzCYdxk

Di tahun-tahun kebelakangan ini, sering terdapat masjid-masjid utama di Malaysia, amnya, mengundang imam-imam favorit Haramain untuk memeriahkan Ramadhan kita di tanah air; selain menambah feel‘ seakan berada di tanah suci sewaktu menunaikan solat berjemaah di negara kita, seminimalnya…

pasti, terubat sedikit kerinduan tidak dapat menghayati Ramadhan di Mekah/ Madinah yang tersohor keasyikannya dengan mengikuti majlis berterawih bersama para imam-imam Haramain.. atau, bikin kerinduan semakin bertambah hangat sehingga menambahkan kekhusyukan solat berjemaah bersama mereka! SubhanAllah, alangkah terpanggilnya keasyikan tersebut dengan gemersik getaran bacaan imam-imam Haramain.. MasyaAllah..

mungkin link di bawah ini, boleh jadi tambatan untuk kita yang tidak berkesempatan bersiaran secara langsung solat terawih dari Mekah, untuk membungakan kerinduan beribadah di tanah suci!

klik ye, solat terawih mekah malam 1@ 17/Jun/2015:

https://www.youtube.com/watch?v=GcXw6GDE2KU

sayyidul_istighfar

malam ke 2: solat terawih Mekah 1436h @2015

klik : https://www.youtube.com/watch?v=JyWK16qD4f8

]

RECITE IT EVERYDAY~

ngat7

yes

MENUTUP AURAT DALAM ISLAM

Aurat (Bahasa Arabعورة‎) merupakan istilah Islam yang melambangkan sesuatu bahagian dari anggota badan, samada lelaki ataupun perempuan, yang haram dibuka atau dipamerkan. Dalam erti kata lain sesuatu anggota badan yang wajib ditutup dan disembunyikan dan haram orang bukan mahram melihatnya.
Kewajipan menutup aurat adalah wajib bagi perempuan dan lelaki yang telah baligh. Berpandukan dalil-dalil daripada Al Quran dan Hadis, aurat lelaki dan aurat perempuan adalah seperti berikut:
Mengikut mazhab Ahlul Sunnah Wal Jamaahaurat lelaki ialah di antara pusat dengan lutut. Maknanya, mereka seharusnya menutup alat kemaluan dan bahagian di antara pusat dan lutut setiap masa kecuali atas dasar privasi. Mereka juga wajib memakai pakaian yang longgar dan tidak jarang bagi mengelakkan warna kulit dan juga bentuk badan dilihat oleh golongan bukan ajnabi.
Wanita:
Aurat wanita sangat komplikated dan berubah mengikut situasi:Di hadapan mahram (saudara lelaki rapat), seseorang wanita itu wajib menutup seluruh badannya kecuali kepala dan tangan.
Di hadapan sesama wanita muslim, aurat perempuan ialah di antara pusat hingga lutut.
Aurat di hadapan sesama wanita bukan Islam menjadi perdebatan. Sesetengah ilmuwan menyatakan wajib menutup seluruh anggota badan kecuali muka dan pergelangan tangan. Sementara, sesetengah ilmuwan lain berpendapat aurat perempuan muslim kepada bukan wanita bukan Islam ialah sama ketika mana mereka berada dengan sesama wanita Islam.
Aurat di hadapan lelaki yang tiada pertalian tidak kira Islam mahupun bukan Islam adalah menutup seluruh anggota badan kecuali muka dan tapak tangan.
Aurat ketika solat ialah wajib menutup seluruh anggota badan kecuali muka dan tapak tangan.Sesetengah ilmuwan berpendapat suara wanita juga adalah aurat.

DALIL Al-QURAN:

Wahai anak-anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu (bahan-bahan untuk) pakaian menutup aurat kamu dan pakaian perhiasan dan pakaian yang berupa takwa itulah yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah dari tanda-tanda (limpah kurnia) Allah (dan rahmatNya kepada hamba-hambaNya) supaya mereka mengenangnya (dan bersyukur). (Surah Al-A’raaf : Ayat 26)

“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram) dan memelihara kehormatan mereka dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka (terjemahan langsung adalah: ‘dan hendaklah mereka menutup dada mereka dengan penutup’); dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada;
suami mereka atau
bapa mereka atau
bapa mertua mereka atau
anak-anak mereka, atau
anak-anak tiri mereka atau
saudara-saudara mereka atau
anak bagi saudara-saudara mereka yang lelaki atau
anak bagi saudara-saudara mereka yang perempuan, atau
perempuan-perempuan Islam atau hamba-hamba mereka atau
orang gaji dari orang-orang lelaki yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada perempuan
kanak-kanak yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan
dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu berjaya.” (Surah An Nur : Ayat 31)

“Wahai Nabi, suruhlah isteri-isterimu dan anak-anak perempuanmu serta perempuan-perempuan yang beriman, supaya melabuhkan pakaiannya bagi menutup seluruh tubuhnya (semasa mereka keluar); cara yang demikian lebih sesuai untuk mereka dikenal (sebagai perempuan yang baik-baik) maka dengan itu mereka tidak diganggu. Dan (ingatlah) Allah adalah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.” (Surah Al-Ahzab : Ayat 59)

“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka, atau bapa mereka atau bapa mertua mereka atau anak-anak mereka, atau anak-anak tiri mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang lelaki, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang perempuan, atau perempuan-perempuan Islam, atau hamba-hamba mereka, atau orang gaji dari orang-orang lelaki yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada perempuan, atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka; dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu berjaya.” (Surah An-Nur:31)

  HADIS NABI S.A.W

“Sesungguhnya wanita itu adalah aurat, setiap kali mereka keluar, syaitan akan memperhatikannya.” (Riwayat Bazzar dan At-Tirmizi)


“Allah merahmati wanita-wanita Muhajirin yang pertama, apabila turunnya ayat (yang bermaksud) “…dan hendaklah mereka menutup belahan leher baju mereka dengan tudung kepala mereka…”, serta-merta mereka mengoyakkan apa sahaja kain (yang ada di sekeliling mereka) lalu bertudung dengannya.” (Riwayat Al-Bukhari)

3) Bahawa Asma’ bint Abi Bakr (kakaknya) datang bertemu Nabi s.a.w. dalam keadaan pakaiannya nipis sehingga nampak kulit badannya, lalu Nabi s.a.w. pun berpaling daripadanya dan bersabda: “Wahai Asma’, seorang perempuan yang telah sampai haidh (baligh) tidak boleh dilihat (hendaklah bertutup) pada badannya melainkan ini dan ini” (sambil baginda menunjukkan ke arah wajah dan kedua pergelangan tangannya). (Riwayat Abu-Dawud)

UNTUK huraian lanjut berkenaan aurat, silalah KLIK details AURAT di sini!

DOA PENGGERAK

Bismillahirrahmanirrahiim..

 

Ayat Penggerak:

 

Bismillahillazi La Yadhurru Ma’as Mihi Syai’un Fil Ardhi Wa la FisSamaa_i wahuas Samiiul ‘Aliim

Rasulullah s.a.w. mengajarkan kepada umatnya satu doa yang jika dibaca tiga kali di waktu pagi dan tiga kali di waktu petang maka akan terhindarlah kepada yang membacanya daripada segala kemudaratan di sepanjang hari tersebut (doa Penggerak di atas) 

Mengikut kamus Dewan Bahasa Edisi Ketiga”Mudharat” membawa maksud seperti berikut;

  1. Tidak Beruntung, Menanggung Rugi2. Tidak Berhasil, Tidak Berjaya, Gagal3. Berbahaya4. Melarat, Bertambah Payah

Dengan itu jika kita amalkan doa yang tersebut di atas, insya’Allah kita akan terhindar daripada ”mudarat” yang disebutkan. Maka dengan itu faedahnya yang diperolehi ialah kita akan;

  1. Beruntung, Tidak Menanggung Rugi.2. Berhasil, Berjaya dan Tidak Gagal.3. Selamat dari bahaya.4. Tidak melarat, Menjadi Senang.

Keberuntungan beramal dengan doa ini:

Terhindar Daripada Bahaya

Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din menamakan doa ini sebagai ”Ayat Pengerak” kerana dengan membaca doa ini boleh mengerakkan hati kita untuk meneruskan atau tidak bila hendak melakukan sesuatu kerja-kerja yang berbahaya. Tuan Guru memberikan petua bagaimana untuk beramal dengan doa ini seperti berikut;

• Bila hendak memulakan perjalanan samaada perjalanan yang dekat ataupun jauh, mengembara ke tempat yang telah biasa ataupun yang belum pernah dikunjungi dan sebagainya atau untuk memulakan sesuatu pekerjaan yang mungkin biasa atau berisiko seperti masuk hutan untuk berburu, memancing, menyembelih binatang, bekerja di tempat pembinaan, dan seumpamanya, maka sebelum itu bacalah doa ini sebanyak tujuh kali. Insya’Allah, Allah s.w.t akan melindungi kita daripada segala bentuk kemudaratan, kejahatan dan bahaya yang mungkin ada di sekeliling kita.

• Jika bacaan tersekat-sekat atau terlupa atau ketika sedang membaca ada gangguan seperti gangguan telefon berdering, gangguan daripada anak-anak, gangguan daripada rakan-rakan yang menyapa dan sebagainya yang menyebabkan kosentrasi bacaan terganggu, maka berehatlah dahulu. Jangan diteruskan perjalanan atau pekerjaan tersebut. Setelah berehat beberapa ketika, baca sekali lagi sehingga tujuh kali bacaan. Jika sekiranya bacaan tujuh kali itu lancar baru teruskan perjalanan atau pekerjaan tersebut. Jika diteruskan juga perjalanan atau pekerjaan sedangkan bacaannya tidak lancar, mengikut pengalaman Tuan Guru, kita boleh terkena dengan kemudaratan yang mungkin ada dihadapan kita.

Perlu diingatkan disini bahawa, insya’Allah kita boleh terlepas daripada kemudaratan yang dinamakan Qada’ Muaalaq iaitu ketentuan Allah yang boleh berubah dengan kita berusaha melalui berdoa kepada-Nya. Bagaimanapun jika ianya Qada’ Mubram iaitu ketentuan Allah yang tidak boleh berubah seperti mati maka kalau ajal telah tiba kita membaca doa ini seribu kali sekali pun pasti kita akan mati.

Terhindar Daripada Kemudaratan Makanan

Makanan dan minuman yang masuk ketubuh badan kita sebahagiannya mengandungi bahan kimia yang beracun. Racun tersebut tidak memberi kesan untuk jangkamasa pendek tetapi terbukti sebahagiannya memudaratkan tubuh badan untuk jangkamasa panjang. Penyakit yang begitu sinonim dewasa ini dalam masyarakat kita seperti kanser, diabetes, dan sebagainya adalah berpunca daripada makanan dan juga minuman. Untuk mengelakkan makanan yang kita makan membawa mudarat kepada tubuh badan adalah disarankan agar mengamalkan doa ini sekurang-kurangnya tiga kali sebelum menjamah apa sahaja makanan dan minuman. Insya’Allah dengan keberkatan membaca doa ini semua makanan dan minuman yang halal, yang dimakan dan diminum tidak memudaratkan tubuh badan kita.

Terhindar Daripada Sihir

Perbuatan belajar dan mengamalkan ilmu sihir hukumnya adalah syirik dan mereka yang syirik akan mendapat balasan laknat Allah s.w.t. dan mereka akan ditempatkan di dalam neraka selama-lamanya melainkan jika sempat bertaubat sebelum mati.

Kesan perbuatan sihir boleh terkena kepada sesiapa sahaja dengan izin Allah s.w.t. Ada sihir untuk tujuan kecantikan seperti memakai susuk dan kebanyakan amalan sihir adalah untuk tujuan khianat yang boleh memudaratkan seseorang dan sesetengahnya boleh membawa maut. Ada perbuatan sihir yang sememangnya ditujukan kepada seseorang kerana dorongan hasad dengki, dan ada juga yang terkena sihir dengan tidak disengajakan seperti secara tidak sengaja termakan makanan dan minuman yang mengandungi santau.

Pengalaman penulis berhenti makan dengan seorang sahabat di sebuah gerai makan. Gerai tersebut terletak di tepi jalanraya. Ketika hendak menjamah makanan, tiba-tiba pinggan kaca yang berisi nasi terbelah dua. Dalam peristiwa yang lain, sahabat penulis itu menceritakan dia pernah minum di sebuah restoran dimana gelas ditangannya pecah sebelum sempat sampai ke mulutnya. Kedua-dua kejadian ini berlaku kerana makanan dan minuman tersebut ada mengandungi sihir santau. Dia terhindar daripada mudarat sihir dengan berkat beramal dengan doa ini setiap kali sebelum menjamah makanan dan minuman.

Dalam hal yang lain pula, ada juga sihir digunakan untuk tujuan melariskan jualan makanan. Unsur-unsur bahan sihir tertentu dimasukkan ke dalam makanan yang menyebabkan sesiapa yang menjamah makanan tersebut akan merasakan masakan tersebut sungguh sedap. Dengan mengamalkan doa ini insyaAllah kita hanya akan merasa yg asal tanpa dipengaruhi faktor lain.

Terhindar Daripada Gangguan Makhluk Halus

Apabila kita pergi ke sesuatu tempat yang pada kebiasaannya tempat tersebut makhluk halus berkeliaran atau tinggal seperti di tepi tasek, di dalam hutan, di bangunan yang telah lama di tinggalkan dan sebagainya, maka kita terdedah kepada gangguan makhluk ini. Namun begitu jika kita beramal dengan doa ini insya’Allah mereka tidak berjaya untuk mengusik, manakut-nakutkan dan memudaratkan kita.

Satu perkara yang penting juga, apabila kita pulang ke rumah dari tempat yang disebutkan di atas, kadang kala makhluk itu akan mengekori kita dan masuk ke dalam rumah kita tanpa kita sedari. Jika kita mempunyai anak-anak kecil mereka mudah diganggu oleh makhluk ini, akibatnya anak kecil kita menangis tidak henti-henti. Untuk mengelakkan mereka masuk ke rumah kita, bacalah doa ini tiga kali kemudian ludah ke sebelah kiri sebelum kita masuk ke dalam rumah.

Di dalam hadis yang tersebut di atas, Rasulullah s.a.w. mengajarkan supaya membaca doa ini tiga kali, dengan itu mungkin kurang berkesan jika kita membacanya kurang daripada tiga.

Semoga artikel pendek ini memberi manfaat kepada yang membaca dan mengamalkannya, insya’Allah.

doa penggerakdoa penggerak

….alhamdulillah….

so it comes again…. the beginning of a blissful month

on a wonderful day –

the BEST FRIDAY..


 it’s TODAY….

1st REJAB, 1432H

~DON’T YOU AWARE???

a Menjelang Bulan Rejab


Ya Allah! Berkatilah kami dalam bulan Rejab dan dalam bulan Syaaban dan sampaikanlah kami ke dalam bulan Ramadhan.
Tiada tuhan melainkan Allah yang Maha lembut lagi Maha Mulia. Maha suci Allah, tuhan 7 petala langit dan tuhan yang mempunyai arasy yang agung. Dan tiada kekuatan melainkan kekuatan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Imam As-Sayuti r.a meriwayatkan bahawa Nabi s.a.w bersabda yang ertinya:

Rejab adalah bulan Allah,

Syaaban bulanku

& Ramadhan bulan umatku.

sabda Nabi s.a.w.

REJAB adalah bulan untuk bertanam. Maka berniagalah kamu semoga Allah merahmati kamu pada bulan Rejab kerana ianya adalah musim untuk berniaga.Dan makmurkanlah waktu waktu kamu(dengan beramal) di dalamnya kerana ianya adalah waktu berbuat amal.

 

Para ulama berkata bulan Rejab

adalah bulan istighfar.Maka perbanyakkanlah istighfar di dalamnya. Imam As-Sayuti r.a membawa sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ad-Dailami oleh Saiyidina Ali Ibn Abi Talib k.w. Nabi s.aw bersabda Yang ertinya:

Banyakkanlah beristighfar di bulan Rejab kerana pada setiap saat di dalamnya Allah menyelamatkan (seorang) dari api neraka.

Rejab adalah musim perniagaan,

iaitu perniagaan dengan amal soleh.

Mereka yang banyak membuat amal saleh pada bulan ini akan mendapat keuntungan besar di akhirat. Dalam Al-Quran di

surah Al-An’aam ayat 160 Allah Taala berfirman.Yang ertinya:

Barang siapa membawa amal kebaikan maka baginya sepuluh kali ganda. Tetapi amal kebajikan yang dilakukan pada bulan Rejab digandakan sebanyak 70 kali ganda. Begitu juga sembahyang pada waktu malam akan memberi cahaya kepada hati dan membawa kepada keredhaan Allah.

Rejab merupakan pembukaan bulan2 kebaikan dan berkat.

Jika tahun diibaratkan sebagai pohon, Rejab ibarat waktu keluarnya daun, Syaaban ibarat keluarnya bunga dan Ramadhan ibarat keluar buah- buahannya.

Imam As-Sayuti r.a membawa sebuah hadis yang diriwayatkan oleh ibnu Asaakir r.a bahawa

Nabi s.a.w pernah bersabda.Yang ertinya:

Lima malam tidak ditolak di dalamnya doa.

Malam pertama di dalam bulan Rejab, malam Nisfu Syaaban, malam Jumaat, malam hari raya Aidil Fitri dan malam Hari Raya aidil Adha.

Nabi s.a.w telah bersabda lagi.Yang ertinya:

Aku melihat pada malam Mikraj sebuah sungai yang airnya lebih manis daripada madu dan lebih sejuk daripada air batu dan (baunya) lebih harum daripada kasturi. Aku bertanya kepada Jibrail, “Ya Jibrail untuk siapakah ini? Beliau berkata, “Untuk mereka yang berselawat atas mu pada bulan Rejab.”

Imam As-Sayuti banyak meriwayatkan hadis Nabi s.a.w tentang puasa di bulan Rejab. Antaranya sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Said Ibn Abi Rashed r.a Nabi s.a.w bersabda.Yang ertinya:

Rejab adalah bulan yang mulia di mana Allah melipat gandakan

segala(pahala) kebajikan.

Dan barang siapa yang berpuasa satu hari di bulan Rejab seperti dia berpuasa setahun.

Dan barang siapa yang berpuasa selama tujuh hari nescaya ditutupkan baginya pintu pintu neraka.

Dan barang siapa berpuasa selama delapan hari di bukakan baginya delapan pintu syurga.

Dan barang siapa berpuasa selama sepuluh hari tiada yang diminta kepada Allah sesuatu melainkan diberikannya.

Dan barang siapa yang berpuasa selama lima belas hari diseru (namanya) oleh malaikat dari langit (dan berkata) sesungguhnya Allah telah mengampunkan dosanya yang telah lalu dan bermulalah amal baru.

Dan barangsiapa yang melebihkannya akan dilebihkan Allah. Di bulan Rejab Allah telah mengangkatkan Nabi Nuh a.s ke dalam kapal dan baginda berpuasa di bulan Rejab dan memerintahkan semua yang bersamanya berpuasa.

Dalam hadis yang lain diriwayatkan oleh Abi Qilabah Nabi s.a.w bersabda.Yang ertinya:

Di syurga ada sebuah istana (yang dikhaskan) untuk mereka yang berpuasa di bulan Rejab.

Begitu juga imam Al-Baihaqqi r.a dalam meriwayatkan sebuah hadis dari Anas Ibn Malik r.a Nabi s.a.w bersabda.Yang ertinya:

Di syurga ada sebuah sungai yang dinamakan Rejab. Warnanya lebih putih daripada susu dan manisnya lebih daripada madu.Barang siapa yang berpuasa sehari di bulan Rejab nescaya diberi minum Allah Taala daripada sungai itu.

Dalam sebuah hadis Nabi s.a.w yang lain bersabda.Yang ertinya:

Semua insan lapar pada hari kiamat kecuali para Nabi dan keluarga mereka dan orang orang yang berpuasa pada bulan Rejab, Syaaban dan Ramadhan. Sesungguhnya mereka kenyang tidak akan lapar dan haus.

Diriwayatkan bahawa 4 perkara akan meringankan azab kubur.

Tetap dalam membaca Al-Quran.

Bersifat rahmat terhadap anak anak yatim.

Berpuasa 3 hari di bulan Rejab

Berpuasa 3 hari di bulan Syaaban

Tiga hari yang dimaksudkan itu ialah pada 13,14,15 haribulan.

Bagi mereka yang berpuasa pada hari Isnin dan Khamis di dalam bulan Rejab akan mendapat dua pahala

Kerana mengikut sunnah Nabi s.a.w

Kerana diamalkan didalam bulan Rejab.

Doa Rejab yang masyhur berupa istighfar yang diajarkan oleh Nabi s.a.w., Diamalkan sebanyak 70 kali setiap hari atau setiap pagi dan petang.

Ya Allah ampunilah daku dan rahmatilah daku dan aku bertaubat (kepadaMu Ya Allah)

Barang siapa yang beristighfar kepada Allah dibulan Rejab pada waktu siang dan malam dan berkata: Ya Allah, ampunilah daku dan rahmatilah daku dan aku bertaubat (kepadaMu ya Allah) sebanyak tujuh puluh kali nescaya tidak disentuh api neraka kulitnya sama sekali.

TAHUKAH ANDA???

Rejab ialah bulan yang cukup istimewa dalam takwim Islam.

Pelbagai peristiwa berlaku pada bulan ini dan satu daripadanya yang sangat penting ialah peristiwa Israk dan Mikraj pada 27 Rejab.

Peristiwa Israk dan Mikraj bukan sahaja banyak mengandungi pengajaran berguna kepada umat islam malah menjadi satu ujian kepada kepercayaan dan kekuatan akidah umat islam.

Peristiwa itu berlaku di luar kemampuan akal fikiran manusia untuk menerima dan memahaminya.Oleh itu ramai umat islam yang lemah iman akan tergelincir akidah dan pegangannya terhadap Islam kerana meragui peristiwa berkenaan dan mempertikaikannya daripada segi logik akal manusiawi.

Memang benar, jika peristiwa Israk dan Mikraj itu dinilai dari sudut akal fikiran semata mata sudah tentu manusia tidak mampu mempercayai berlakunya peristiwa itu terhadap Rasulullah.

Ini kerana akal fikiran manusia terbatas, tetapi jika diletakkan di atas dasar keimanan dan ketakwaan, sudah tentu ia dapat diyakini.

Aspek keyakinan ini diperkuatkan lagi dengan firman Allah yang menceritakan peristiwa Israk dan Mikraj dengan menyebutkan “Maha suci Allah” iaitu maha suci Allah daripada sebarang kelemahan dan kekurangan.

Firman Allah bermaksud:

“Maha suci Allah yang menjalankan hambaNya (Muhammad) pada malam hari dari masjidil Haram ke masjidil Aqsa yang kami (Allah) berkati sekelilingnya untuk memperlihatkan kepadanya tanda (kekuasaan dan kebesaran) kami, Sesungguhnya Allah jualah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”

(Al Israk;1).

Dalam penghidupan moden ini, apakah pengajaran dan iktibar yang boleh diteladani daripada peristiwa itu?

Antara pengajaran dan iktibar:-

Menyahut rintihan Rasulullah dalam usahanya menyampaikan dakwah terhadap umat jahiliah,yang ternyata baginda mendapat tentangan yang amat hebat.Antara yang paling hebat ialah ketika baginda berdakwah kepada penduduk Taif. Ketika itu Baginda diejek dan dilempar dengan batu hingga terluka.

Justeru itu, Rasulullah segera keluar dari kawasan itu dan berehat di sebuah kebun milik Uthbah dan Syibah Rabiah. Pada saat itu, baginda mengadu kepada Allah.

Sesungguhnya Allah mendengar apa yang diucapkan Rasullullah dan berdasarkan hadis Nabi bahawa Allah mengutuskan malaikat Jibril dengan menawarkan bantuan untuk menghempap mereka yang melakukan kekejaman terhadap Rasullullah dengan gunung-gunung yang ada di sekitar kota Taif itu.

Namun, Rasulullah menolak tawaran malaikat Jibril itu, bahkan baginda berdoa agar Allah menjadikan anak cucu mereka termasuk di kalangan yang menerima Islam di masa akan datang.

pengajaran penting berkaitan peristiwa Isra’ Mi’raj

Kepentingan solat fardu sehari semalam lima waktu;

Balasan baik kepada mereka yang melakukan kebaikan dan sebaliknya memperlihatkan balasan buruk kepada mereka yang melakukan kejahatan; dan

Umat Islam akan menghadapi banyak cabaran daripada musuh mereka sepanjang zaman.

Peristiwa Israk & Mikraj memperlihatkan betapa pentingnya solat lima waktu berbanding dgn. ibadat yang lain.

Kefardhuan ibadat solat ditentukan pada malam berlakunya Israk dan Mikraj dengan Nabi Muhammad dijemput menerimanya daripada Allah s.w.t di Sidratul Muntaha manakala ibadat lain difardhukan melalui wahyu yang dibawa malaikat Jibril a.s.

Kefardhuannya yang asal diperintahkan Allah s.w.t sebanyak 50 waktu sehari semalam bertukar menjadi 5 waktu sahaja setelah Nabi s.a.w memohon untuk dikurangkan atas nasihat Nabi Musa a.s. Namun pahalanya tetap diberikan Allah sebanyak 50 waktu pahala bersembahyang.

Beberapa perkara yang diperlihatkan kepada Rasulullah sewaktu Israk dan Mikraj.

Sekumpulan manusia menanam dan menuai gandum.Setiap kali dituai, gandum itu tumbuh kembali dan terus boleh dituai dan begitulah keadaannya.

Ini menggambarkan balasan kepada mereka yang berkorban apa sahaja untuk kepentingan agama Allah. Mereka akan mendapat balasan terus menerus.

Tempat yang sangat harum.Hal ini memperlihatkan balasan baik bagi mereka yang berkorban pada jalan Allah.

Sekumpulan manusia memakan daging mentah dan busuk sedangkan di sebelah mereka tersedia daging baik.

Ini menggambarkan keadaan mereka yang melakukan zina sedangkan sudah mempunyai isteri atau suami.

Manusia yang berperut besar sehingga tidak boleh bangun . Gambaran balasan orang yang memakan riba.

Manusia yang mengumpul dan mengikat kayu untuk dipikul. Apabila tidak terdaya memikul,makin ditambahnya .

Gambaran manusia yang tidak amanah,tetapi mahu menerima amanah dan tanggungjawab atau jawatan dengan banyak walaupun tidak mampu melaksanakannya.

Panggilan perempuan tua yang memakai perhiasan untuk mengajak berbual dan berbicara

Gambaran bahawa dunia dan pengaruh kebendaan pasti akan mempersonakan manusia.

Gangguan Iblis dan Jin untuk mengganggu perjalanan Rasulullah.

Ini menunjukkan iblis dan jin pasti mengganggu manusia supaya sesat daripada jalan Allah.

Golongan manusia yg memecahkan kepala mereka berkali2: Gambaran manusia yang meninggalkan solat kerana sibuk dengan urusan dunia.

Manusia yang memakai pakaian compang camping dan memakan sampah sarap serta rumput rampai

Gambaran manusia yang tidak membayar zakat, tidak mengeluarkan zakat, tidak bersedekah dan seumpamanya kerana sayangkan harta.

Kumpulan manusia yang memotong lidah sendiri secara berterusan

gambaran menunjukkan kumpulan manusia yang menyebar fitnah, pembohong dan seumpamanya.

Lembu besar keluar dari lubang kecil dan cuba masuk semula ke dalam lubang itu:

Gambaran manusia angkuh dan bercakap besar, selepas itu dia kesal dan mahu menarik balik percakapannya itu.

Pokok berduri yang mencarik pakaian orang yang lalu berhampirannya

Gambaran manusia yang suka berada di persimpangan jalan dan mengganggu orang lalu lalang di kawasan itu.

Perempuan digantung rambutnya ke dalam neraka:

Gambaran kaum wanita yang tidak menutup aurat.

Ternyata kesemua 13 peristiwa yang diperlihatkan itu menggambarkan keadaan manusia yang ada di muka bumi ini dan ternyata keadaan ini sedang berlaku.

apakah kita mengambil iktibar daripada peristiwa israk mi’raj ini sewajarnya?

Empat perkara yang berharga dalam diri manusia:

sabda Nabi Muhammad saw:

“Ada empat macam yang berharga dalam diri manusia dan ia boleh hilang dengan empat sebab.

Adapun yang berharga itu ialah akal, agama, malu dan amal soleh. Maka akal boleh hilang disebabkan marah. Agama boleh hilang disebabkan dengki. Malu boleh hilang disebabkan tamak dan amal soleh boleh terhapus disebabkan suka menceritakan keburukan orang lain.”