Kisah Nenek Si Pemungut Daun:

true

aduhai diri yang kerdil,

bagaimanakah diri tatkala tersua dengan mereka yang berumur lanjut…??

tentu terhiris juga perasaan pabila kita melihat memana kelibat warga emas yang seolah merempat di tempat-tempat yang sepatutnya bukan tumpuan mereka lagi bersama kedhaifan diri…

semoga Kisah Nenek Si Pemungut Daun yang dikongsi ini dapat menilai diri kita & mereka dengan terlebih mulus lagi… insyaAllah..

menarik untuk renungan Jumaat Barakah!

aameeen…

mutiara-kata.jpg

 

Kisah Nenek Si Pemungut Daun:

 

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke Masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Dzuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berselerakan di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu helaipun ditinggalkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringat membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh hiba kepadanya. Pada suatu hari takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.

Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia menanyakan mengapa daun-daun itu sudah dibersihkan sebelum kedatangannya. Orang-orang di situ menjelaskan bahawa mereka kasihan kepadanya.

“Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya!”

Disingkatkan cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu.

Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahsianya; kedua, rahsia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan anda dapat mendengarkan rahsia itu:

“Saya ini perempuan bodoh, Pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad saw. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah (shalawat Nabi). Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi saw. menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahawa saya membacakan salawat kepadanya.”

Kisah hikmah ini saya dengar dari Kiai Madura, D. Zawawi Imran, membuat bulu kuduk saya merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan sahaja mengungkapkan cinta Rasul saw. dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal di hadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesedaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat menggandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah SAW?

 SUMBER: (c,e & p)

Jalaluddin Rakhmat, Rindu Rosul [penerbit rosda-bandung]

http://disinidandisini.blogspot.com/2011/10/kisah-nenek-pemungut-daun.html

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s