ayat2 ibadur-rahman..(al-furQan:25:63-77)

tafsir tentang ciri-ciri ibadur-rahman yang boleh menyuntik peribadi, emosi, jatidiri! selamilah maksud tersurat-tersirat, mudah2an ditunjuki kita selamanya dalam kebenaran & keridhaan Tuhan yang Satu; Tempat Meminta/Merujuk/Merajuk..segalanya..

alhamdulillah…  dengan izinNya jua, tertemukan karya lewat Buya Hamka yang dikarangnya pada tahun kelahiranku dahulu; etafsir alQuran al-Azhar yang indah susunan bicaranya & menyentak nurani..

masyaAllah…

silakan ke link ini:

http://tafsiralazhar.net46.net/myfile/S-Al-Furqon/Al_Furqon_63_77.htm

Tafsir Surat Al-Furqan ayat 63 – 77

(63) Dan hamba-hamba dari Tuhan Yang Pemurah itu, ialah orang­orang yang berjalan di atas bumi dengan sopan dan bila mereka ditegur sapa oleh orang-orang yang bodoh, mereka menjawab dengan “salam”.
(64) Dan mereka yang pada malam hari bergadang menyembah Tuhan, baik sujud maupun ber­diri.
(65) Dan mereka yang berkata: Ya Tuhan kami, jauhkan kiranya kami daripada azab neraka jahannam, karena azab neraka jahannam itu sangat memilukan.
(66) Dia (neraka jahannam) adalah seburuk-buruk tempat kediaman dan seburuk-buruk tempat tinggal.
(67) Dan orang-orang yang bila menafkahkan harta mereka, tidaklah mereka ceroboh dan tidak pula kikir, melainkan per­terTgahan di antara keduanya.
(68) Dan orang yang tidak menyeru Tuhan yang lain bersama Allah, dan tidak mereka membunuh din yang diharamkan oleh Allah kecuali menurut haknya dan tidak pula mereka berzina. Dan barangsiapa yang berbuat demi­kian itu, niscaya akan bertema ea dengan dosa.
(69) Berlipat-gandalah siksa yang akan dideritanya di hari kiamat, clan tetap mereka di sana dalam keadaan terhina.
(70) Kecuali orang yang taubat, dan beriman dan beramal dengan amalan yang shalih. Orang orang yang semacam itu akan diganti oleh Allah kejahatannya dengan berbagai kebajikan. Dan Tuhan Allah adalah Maha Peng­ampun dan Maha Penyayang.
(71) Dan siapa-siapa yang kembali (taubat) clan beramal pula dengan amalan-amalan yang shalih, maka sesungguhnya kembalinya itu ialah kepada Allah, sebenarnya taubat.
(72) Dan orang-orang yang tidak memberikan kesaksian dusta;dan bila mereka melalui urusan-urusan yang tidak ada gunanya, mereka lewat saja dengan sikap yang mulia.
(73) Dan orang-orang yang bila di­ingatkan ayat Tuhan kepada mereka, tiadalah mereka menuli kan telinga dan membutakan mata.
(74) Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugerahilah kiranya kami ini dari isteri-isteri dan keturunan kami yang men­jadi cahayamata, dan jadikanlah kiranya kami ini menjadi Imam ikutan daripada orang-orang yang berta.kwa kepada Engkau.
(75) Orang-orang itulah yang akan diberi ganjar pahala dengan ruangan yang mulia karena ke -sabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan segala kehormatan dan kebahagiaan.
(76) Kekal mereka di sana selama­nya! Itulah yang sebaik-baik tempat kediaman dan tempat tinggal.
(77) Katakan olehmu (Ya Utusan Kami): Tuhanku tidak akan memperdulikan kamu kalau tidaklah karena doa kamu. Sesungguhnya kamu telah pemah mendustakan, maka oleh karena itu pastilah kamu mendapat hukuman.
Ibadur KahmanUntuk meresapkan ayat-ayat `Ibadur Rahman ini ke dalam jiwa, bacalah tzengan penuh khusyu` ayat yang sebelumnya, yang tetah ditafsirkan di atas tadi. “Dialah, Tuhan, yang telah mempergantikan di antara malam dengan siang.” Apabila hal itu diperhatikan dan direnungkan, timbullah ingatan akan kebesaran Ilahi (zikir) dan akan timbullah rasa syukur.

Pergantian siang dengan malam, pertemuan hari dengan bulan dan bulan dengan tahun. Matahari terbit dan matahari terbenam, memperlihatkan pula putaran roda nasib dalam dunia fana ini. Kadang-kadang ada bintang naik dan kadang-kadang ada bintang jatuh. Usia manusia laksana terbitnya bulan, sejak bulan sabit sampai bulan pernama Uan sampai susut bulan. Banyak yang kita dapat baca dalam pergantian malam dengan siang itu. Ada bangsa jatuh, ada bangsa naik dan kemudian tiba giliran bagi yang jatuh buat bangkit kembali, semuanya berlaku dalam siang dan dalam malam. Dengan pergantian malam dengan siang itulah kita mengumpulkan sejarah dalam ingatan kita.

Tak ada pergantian malam dengan siang, niscaya tak ada apa yang dinamai sejarah. Bila menilik pergantian di antara malam dengan siang, akan timbullah ingatan atas kekuasaan Tuhan (zikir). Tidak ada artinya clan nilainya pergantian malam dengan siang itu bagi orang yang tidak menyediakan jiwa­nya buat mengenal Tuhan dan mensyukuri nikmatNya.

Apabila zikir dan syukur telah tumbuh dalam hati, mulailah terasa bahwa kehidupan makhluk seluruhnya, termasuk kehidupan kita sendiri, tidaklah pernah terlepas daripada kasih-sayang dan kemurahan Tuhan. Ke mana saja pun mata memandang, Rahman Ilahi akan jelas nampak. Rahman Ilahi me­liputi segala. Terasalah kecil diri di hadapan kebesaranNya, dan bersedialah kita dengan segala kerelaan hati buat menjadi hamba dari Tuhan Pemurah itu. Orang-orang yang insaf itulah `Ibadur Rahman.

Keinsafan siapa din di hadapan Kemurahan Tuhan menimbulkan kesuka­relaan mengabdi dan berbakti. Dasarnya ialah Zikr dan Syukr membentuk peri­badi sehingga tumbulah “tokoh-tokoh” `Ibadur Rahman itu.

Adalah di dalam ayat-ayat akhir Surat “al-Furqan” ini Tuhan mewahyukan kepada Rasul tentang sifat-sifat, karakter, sikap hidup clan pandangan hidup dari `Ibadur Rahman.

Pertama sekali ialah sebagai yang dijelaskan pada ayat 63: Orang yang berhak disebut `Ibadur Rahman (Hamba-hamba daripada Tuhan Yang Maha Murah), ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi Allah dengan sikap sopan-santun, lemah-lembut, tidak sombong dan tidak pongah. Sikapnya tenang.

Bagaimana dia akan mengangkat muka dengan sombong, padahal alam di kelilingnya menjadi saksi atasnya bahwa dia mesti menundukkan diri. Dia ada­lah laksana padi yang telah berisi, sebab itu dia tunduk. Dia tunduk kepada Tuhan karena insaf akan kebesaran Tuhan dan dia rendah hati terhadap se­samanya manusia, karena dia pun insaf bahwa dia tidak akan sanggup hidup sendiri, di dalam dunia ini. Dan bila dia berhadapan, bertegur sapa dengan orang yang bodoh dan dangkal fikiran, sehingga kebodohannya banyaklah katanya yang tidak keluar daripada cara berfikir yang teratur, tidaklah dia lekas

‘Seorang Hamba Allah sejati pun tidak melakukan zina. Zina adalah per­hubungan setubuh yang di luar nikah, atau yang tidak sah nikah. Karena maksud kedatangan agama adalah guna mengatur keturunan. Kelahiran ke dunia adalah menurut pendaftaran yang sah. Jelas hendaknya bahwa si anu adalah anak si fulan. Perhubungan kelamin laki-laki dengan perempuan adalah termasuk keperluan hidup clan hajatnya. Agama mengatur hubungan kelamin itu dengan nikah-kawin dan ditentukan pula perkawinan yang terlarang, yaitu dengan yang disebut mahram, sebagai tersebut di Surat 4 ali Imran ayat 23-24.

Maka di dalam ayat 68 clan 69 dijelaskanlah bahwasanya orang yang memperserikat kan Tuhan dengan yang lain, atau menyeru pula akan Tuhan selain Allah dan membunuh sesama manusia termasuk diri sendiri dan berzina, adalah orang-orang itu akan bertemu dengan hukuman. AI-Quran menentukan hukuman bagi si pembunuh sesama manusia, jiwa bayar dengan jiwa. Al­Quran pun menegaskan hukum bagi pezina, karena orang berzina adalah mengacau-balaukan masyarakat. Orang yang kedapatan berzina akan di­hukum, sebagaimana dahulu telah dijelaskan perinciair hukuman ini dalam Surat an-Nur. Surat al-Furqan diturunkan di Makkah. Dosa zina diterangkan sebagai dosa jiwa. Setelah di Madinah berdiri masyarakat Islam, bagi zina di­adakan hukuman badan. Setelah mereka menerima hukumannya yang se­timpal di dunia ini, setelah mereka mati akan mendapat siksa berlipat-ganda lagi clan ditimpa pula oleh kehinaan.

Ayat 70 dan 71 menjelaskan bahwa pintu taubat senantiasa terbuka. Betapa pun kerasnya Hukum Tuhan, namun pintu taubat selalu dibukakan. Di samping kekerasan HukumNya, Tuhan pun adalah mengampun dan pengasih.

TAUBAT adalah kesadaran din atas kesalahan yang pernah dibuat. Dalam sudut hati sanubari manusia tersimpanlah suatu perasaan yang mumi, ke­sadaran bahwa yang salah tetaplah salah. Manusia berjuang dengan hawa nafsunya sendiri untuk menegakkan kebenaran. Dia harus berjuang dengan hawanafsu itu. Bertambah keras cita menegakkan yang benar bertambah keras pula rayuan nafsu buat melanggar suara kebenaran itu. Tetapi selalulah timbul sesal apabila telah terlanjur menuruti hawanafsu. Hati sanubari senantiasa meratap, memekik, menjerit ingin lepas dari belenggu hawanafsu. Pada saat yang demikian perjuangan batin itu maha hebat. Manusia jijik dengan ke­salahannya sendiri. Di saat yang demikian berkehendaklah kepada suatu IRADAH, kemauan yang keras sebagai waja. Di hadapannya terbuka satu pintu, yaitu pintu taubat. Tuhan memberi kesempatan, memanggil, supaya dia lekas keluar dari kesulitan itu. Kekuatan iradahnya menyebabkan dia taubat. Arti taubat ialah kembali kepada jalan yang benar.

Dilepaskan diri dari belenggu hawanafsu itu dan dengan kemauan yang keras, dia masuk ke dalam pintu taubat itu dan dia tidak menolehkan mukanya lagi kepada jalan raya kesalahan yang selama ini telah ditempuhnya. Dia sekarang benar-benar merasai kebebasan jiwa karena lepas dari belenggu. Dia sekarang menempuh hidup yang baru. Maka di dalam ayat 70 itu dijelaskan bahwa taubat yang berjaya ialah taubat yang dituruti oleh amalan yang shalih. Sebab yang taubat itu ialah hati sanubari, bukan semata-mata taubat di muiut. Taubat ialah keinsafan, bukan permainan. Maka akibat atau konsekwensi dari taubat ialah “mengamalkan arnal yang shalih”, artinya mengerjakan pekerjaan­pekerjaan yang baik.

Pertukaran haluan hidup daripada kejahatan kepada menuruti suara batin yang mumi adalah kemenangan batin yang tiada taranya. Selama din bergelimang dalam dosa, selama itu pula batin tertekan dan hidup jadi gelisah. Kadang-kadang meremuk-redamkan jiwa sendiri.

Dan bukan sedikit telah terjadi, bahwasanya dosa yang mengganggu jiwa, menyebabkan jiwa menjadi sakit, dan sakit jiwa mempengaruhi pula kepada jasmani. Itulah neraka dalam hidup. Itulah yang disebut di ujung ayat 68: “Dan barangsiapa yang berbuat demikian itu akan berjumpalah dia dengan dosa.” Dan itulah neraka dalam hidup.

Maka dapatlah difahami satu ceritera yang dahulu pernah kita terangkan panjang lebar dalam Surat an-Nur, bahwasanya seorang yang terperosok berbuat zina pernah datang sendiri kepada Rasulullah s.a.w. mengakui perbuatan nya clan minta dihukum. Meskipun dia tahu bahwa hukum zina adalah rajam (ditimpuk dengan batu sampai mati), jiwanya merasa puas menerima hukuman itu. Apalah artinya siksa badan, dibandingkan dengan kepuasan jiwa? Karena dosa rasa tertebus?

Maka taubat kepada Allah hendaklah dituruti langsung oleh amal, oleh kerja dan usaha. Sisa umur digunakan untuk beramal, agar sakit derita jiwa karena tekanan dosa yang telah lalu dapat diobati atau dilupakan. Di situlah terdapat isi-mengisi di antara batin dengan anggota. Batin bertambah insaf clan sadar, lantaran itu arnal pun bertambah banyak. Bertambah banyaknya arnal menambah kepuasan jiwa.

“Bagi mereka nikmat Allah, karena hasil usaha mereka sendiri.”

Maka orang-orang yang demikian beransurlah merasai nikmat hidup baru.

“Akan diganti Allah amal-amal yang buruk selama ini dengan berbagai ragam kebajikan.”

Kadang-kadang pun terdapatlah orang yang dahulunya durjana, seakan­akan kebenaran tidak akan masuk ke dalam hatinya, lalu dia bertaubat. Setelah die taubat, dia mendapat kemajuan besar dalam perkembangan jiwa Iman. Maka berkatalah setengah ahli Tashawuf, bahwasanya orang yang menyesali diri karena pernah berdosa, kadang-kadang lebih suci hati dan lebih murni amalnya daripada orang yang berbangga karena merasa din tidak pernah berdosa.

Diulang Tuhan sekali lagi dalam ayat 71, bahwasanya orang yang ber­taubat disertai amalan shalih, Tuhan memberikan taubat untuknya sebenar­benarnya taubat.

Setelah itu datanglah ayat 72, sebagai lanjutan penegasan dari sifat-sifat ‘lbadur Rahman itu. Yaitu orang yang tidak suka memberikan kesaksian palsu. Atau mengarang-ngarangkan ceritera dusta untuk menjahannamkan orang lain. Dan mereka itu, apabila berjalan di hadapan orang yang sedang bercakap mengkosong, ngobrol yang tidak tentu ujung pangkal, perkataan-perkataan yang tidak bertanggungjawab, dia pun berlalu saja dari tempat itu dengan baik. Dia menjaga agar dirinya jangan masuk terikat ke dalam suasana yang tidak berfaedah. Usia manusia adalah terlalu singkat untuk dibuang-buang bagi pekerjaan yang tidak berfaedah. Dia keluar clan tempat itu dengan sikap yang mulia dan tahu harga diri, sehingga sikapnya yang demikian meninggalkan kesan yang baik mendidik orang-orang yang bercakap kosong itu.

“Laghwi” dalam bahasa Arab ialah omong kosong, cakap tak tentu ujung pangkal, sehingga menjatuhkan martabat budi pekerti yang melakukannya. Ini­lah yang disebut oleh orang Deli “membual”, oleh orang Jakarta “ngobrol” clan oleh orang Padang “ma-hota”. atau oleh daerah lain disebut juga “memburas”. Pertama melakukan kesaksian dusta, kedua obrolan yang tidak tentu ujung pangkal, amatlah membahayakan dan menjatuhkan mutu masyarakat. Karena kesaksian dusta di muka Hakim, seorang jujur tak bersalah bisa teraniaya, ter­hukum dalam hal yang bukan salahnya. Dan bisa pula membebaskan orang yang memang jahat dari ancaman hukuman. Kesaksian dusta di muka hakim adalah termasuk dosa besar yang payah dimaafkan.

Kata-kata yang “laghwi” cakap kosong, omong kosong, ngobrol yang tidak tentu ujung pangkal, tidaklah layak menjadi perbuatan daripada `Ibadur Rahman. Seorang hamba Tuhan Pemurah mempunyai disiplin diri yang teguh. Lebih baik berdiam diri daripada bercakap yang tidak ada harganya. Kalau hendak bercakap juga, isilah lidah dengan zikir, menyebut dan mengingat nama Allah.

Selanjutnya dalam ayat 73 diterangkan lagi sifat `Ibadur Rahman itu, ialah apabila mereka mendengar orang menyebut ayat-ayat Tuhan, tidaklah mereka bersikap acuh tak acuh seakan-akan tuli ataupun buta.

Sebenarnya kata kebenaran adalah ayat dari Tuhan. Apabila orang menyebut kebenaran, meskipun dia tidak hafal ayat al-Qurannya ataupun Hadisnya, maka seorang Hamba dari Tuhan Pemurah akan mendengarkannya

dengan penuh minat; tidak dia akan menulikan telinganya dan tidak dia akan membutakan matanya. Seorang yang beriman mempertimbangkan nilai kata yang benar dan mentaatinya, sebab Kebenaran adalah suara Tuhan. Apatah jagi kalau bunyi ayat dari al-Quran telah didengar. Hidupnya telah ditentukan buat menjunjung tinggi Kalimat Ilahi. Betapa dia akan menulikan telinga dan membutakan matanya?

Cahaya kebenaran bukan saja memasuki jendela hatinya. Dia belum merasa cukup kalau sekiranya ahli rumahnya, anaknya dan isterinya belum merasai kehidupan yang demikian pula. Oleh sebab itu tersebutlah pada ayat 74 bahwa `Ibadur Rahman itu senantiasa bermohon kepada Tuhannya agar isteri-isteri mereka dan anak-anak mereka dijadikan buah hati permainan mata, obat jerih pelerai demam, menghilangkan segala luka dalam jiwa, penawar segala kekecewaan hati dalam hidup. Betapa pun shalih dan hidup beragama bagi seseorang ayah, belumlah dia akan merasa senang menutup mata kalau kehidupan anaknya tidak menuruti lembaga yang dituangkannya. Seorang suami pun demikian pula. Betapa pun condong hati seorang suami mendirikan kebajikan, kalau tidak ada sambutan dari isteri, hati suami pun akan luka juga. Keseimbangan kemudi dalam rumahtangga adalah kesatuan haluan dan tujuan. Hidup Muslim adalah hidup Jamaah, bukan hidup yang nafsi-nafsi.

Di dalam Hadis Rasulullah s.a.w. ada dikatakan:

“Dunia ini adalah perhiasan hidup, dan sebaik-baik perhiasan dunia itu ialah isteri yang shalih. ”

Berjuta milyar uang pun, berumah, bergedung indah, bermobil kendaraan model tahun terakhir, segala yang dikehendaki dapat saja karena kekayaan, semuanya itu tidak ada artinya kalau isteri tidak setia. Kalau dalam rumah tangga si suami hendak ke hilir dan si isteri hendak ke hulu. Akhirnya akan pecah juga rumahtangga yang demikian, atau menjadi neraka kehidupan sampai salah seorang menutup mata.

Apatah lagi anak. Semua kita yang beranak berketurunan merasai sendiri bahwa inti kekayaan ialah putera-putera yang berbakti, putera-putera yang berhasil dalam hidupnya. Putera berbakti adalah obat hati di waktu tenaga telah lemah.

Apakah hasil itu? Dia berilmu clan dia beriman, dia beragama clan dia pun dapat menempuh hidup dalam segala kesulitannya, dan setelah dia besar dewasa dapat tegak sendiri dalam rumahtangganya. Inilah anak yang akan menyambung keturunan. Dan inilah bahagia yang tidak. habis-habisnya. Si ayah akan tenang menutup mata jika ajal sampai.

Sebagai penutup dari doa itu, dia memohon lagi kepada Allah agar dia dijadikan Imam daripada orang-orang yang bertakwa. Setelah berdoa kepada Allah agar isteri dan anak menjadi buah hati, permainan mata karena takwa kepada Allah, maka ayah atau suami sebagai penangungjawab menuntun isteri dan anak menempuh jalan itu, dia mendoakan dirinya sendiri agar menjadi Imam, berjalan di muka sekali menuntun mereka menuju Jalan Allah.

Doa seorang Mu’min tiadalah boleh tanggung-tanggung. Dalam rumah­tangga hendaklah menjadi Imam, menjadi ikutan. Alangkah janggalnya kalau seorang suami atau seorang ayah menganjurkan anak dan isteri menjadi orang orang yang berbakti kepada Tuhan, kalau dia sendiri tidak dapat dijadikan ikutan?

Itulah dia – “`Ibadur Rahman” – orang-orang yang telah menyediakan jiwa raganya menjadi Hamba Allah dan bangga dengan perhambaan itu. Mukanya selalu tenang dan sikapnya lemah-lembut. Mudah dalam per­gaulan, tidak bosan meladeni orang yang bodoh. Bangun beribadat tengah malam, mendekatkan jiwanya dengan Tuhan. Menjauhi kejahatan karena insaf akan azab api neraka.

Tengah malam dia bangun bermunajat, bertahajjud dan memohon ampun kepada llahi, terdengar azan Subuh dia pun segera bersembahyang Subuh, kalau dapat hendaklah berjamaah. Tidak dia mengangkat diri karena barang kali “kelasnya” dalam masyarakat duniawi terpandang tinggi. Dia menyebarkan senyum dan sikap sopan kepada sesama manusia. Selesai sembahyang, dia pun berjalan di atas bumi Allah mencari rezeki yang telah disediakan Tuhan karena diusahakan. Dan apabila rezeki itu telah dapat, dinafkahkannya dengan baik. Tidak dia royal dan ceroboh dan tidak pula dia bakhil dan kikir. Dan bukanlah mereka, karena sangat tekunnya sembahyang malam, tak kuat lagi berusaha siang harinya.

Teguh tauhidnya sehingga tidak ada tempatnya takut dan bertawakkai, kecuali kepada Allah, tidak dia memuja kepada Tuhan yang lain, karena memang tidak ada Tuhan yang lain. Hanya Allah. Tidak membunuh bahkan tidak pernah berniat jahat kepada sesamanya manusia,.suci bersih kelaminnya daripada perzinaan, dan tidak naik saksi dusta, tidak suka mencampuri omong kosong dan dia pun tekun mendengar kebenaran. Bukan dirinya dan badannya sendiri saja yang difikirkannya, bahkan isteri dan anak-anaknya pun, diberinya contoh teladan sebagai Muslim yang baik.

“Mereka itulah yang akan diberi ganjaran tempat yang mulia karena sabamya, dan dia akan disambut di tempat itu dengan penuh kehormatan dan salam bahagia. ” (ayat 75).

Cobalah perhatikan inti ayat 75 itu. Mereka akan diberi ganja,ran tempat yang mulia, bilik atau kamar yang indah permai, ruangan yang istimewa dalam syurga karena kesabaran mereka.

Mengapa tersebut kesabaran? Sebab masing-masing orang yang berjalan menegakkan Kebenaran, menyusun kekuatan diri clan melatih batin menjadi `Ibadur Rahman, Hamba Allah Tuhan Pemurah, akan merasai bahwasanya menyusun program apa yang harus ditempuh adalah mudah, tetapi menjalan­kannya amatlah sukar. Setiap segi tanda hidup ini seorang yang beriman itu meminta percobaan, meminta pengorbanan clan kadang-kadang mem5nta aliran darah dan airmata.

Kesabaran berjuang menegakkan keperibadian sebagai Muslim, sebagai hamba Allah yang sadar, menyebabkan kebahagiaan jiwa, karena mendapat syurga jannatun na’im, tempat tinggal yang tenteram, kediaman yang senang clan tenang; disambut oleh Malaikat-malaikat Tuhan dengan ucapan Tahiyyat (selamat) dan Salam bahagia.

Akhirnya, sebagai penutup Surat al-Furqan ini, Tuhan dengan perantaraan RasulNya menyuruh sampaikan kepada orang-orang yang selama ini lalai clan lengah, yang belum juga mendapat pegangan hidup, belum juga melatih diri.

“Katakanlah olehmu, Tuhanku tidak akan memperhatikan kamu kalau tidaklah karena doa atau ibadat kamu. Kamu telah mendustakan. Oleh sebab itu maka siksaan Tuhan atas dirimu adalah hal yang pasti.”

Tuhan telah menunjukkan jalan yang harus ditempuh oleh orang yang telah insaf akan kurnia, Rahman dan Rahim Ilahi. Orang-orang yang dapat menuruti garis yang telah ditentukan Tuhan itu patutlah merasa bahagia karena dia telah diberi pegangan hidup, diberi penjelasan ke mana dia harus menuju. Orang lain yang masih kafir clan ragu ada juga mempunyai keinginan men­dapat hidup bahagia, mendapat syurga yang dijanjikan. Tetapi dalam penutup Surat ini sudah diberikan kata tegas, bahwa selama kamu masih menyembah kepada yang selain Allah, selama kamu masih mempersekutukannya dengan yang lain, selama kamu masih mendustakan seruan-seruan yang dibawa oleh Utusan Allah janganlah kamu harap nasibmu akan berubah. Jalan yang salah itu pasti berujungkan azab clan siksa.

Pasti kamu menderita kesengsaraan jiwa di dunia clan neraka jahannam di akhirat.

Pintu taubat masih terbuka: Masuklah ke dalam pintu itu kalau kamu mau. Tetapi kalau kamu masih menuruti jalan yang salah, azab siksa adalah pasti. (Lizaman). Yang harus menentukan bukan orang lain, tetapi engkau sendiri.

Maka bagi orang yang telah mendalam perasaan cintanya kepada Tuhan dirasainyalah satu kebanggaan jiwa yang amat tinggi apabila dia membaca ayat-ayat `Ibadur Rahman dalam Surat al-Furqan ini, atau dalam Surat yang lain yang mengandung panggilan Tuhan kepada hambaNya: “Ya `Ibadi”, wahai HambaKu. Pernahlah seorang hamba Allah yang saking sangat terharunya membaca “Ya `Ibadi”, atau `Ibadur Rahman, keluar ilham syairnya demikian bunyinya:

Satu hal yang amat menambah banggaku dan megahku, sehingga serasa berpijak kakiku di atas Bintang Timur.

lalah Engkau masukkan daku dalam daftar “Hai HambaKu”. Dan Engkau telah jadikan Ahmad menjadi Nabiku.

 

Akan terasa pulalah oleh kita nikmat menjadi Hamba Tuhan apabila syarat­syarat clan latihan hidup yang telah digariskan dalam ayat-ayat `IBADUR RAHMAN dapat kita kerjakan, setapak demi setapak, selangkah demi se­langkah. Itulah yang menentukan nilai peribadi kita sebagai Muslim.

Ayat `Ibadur Rahman itulah cita (idea) seorang Mu’min!

Selesai Penafsiran Surat al-Furqan Pada pagi hari Jum’at

9 Rabi’ul Akhir 1383 30 Agustus 1963

~Buya Hamka~

——————————————

salaam & maaf!

nota:

cedokan c&p ini tidak lebih hanya sebagai rujukan diri & pendamba lain2nya. ianya tidak bermaksud menciplak untuk kemasyhuran tapi semoga ia memanfaatkan & Allah sahaja yang membalas usaha suci kalian yang memanjangkan karya murni Pak Buya Hamka.. jzkmullah khairaan kathiraa..

maafkan & halalkan, boleh?

ameeen.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: